Saturday, October 19, 2019

EKOSISTEM AIR TAWAR





BAB III
EKOSISTEM AIR TAWAR
A. Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Perairan merupakan suatu ekosistem yang memiliki peran dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Kehidupan di dalamnya sangat beragam. Mulai dari organisme mikroskopik sampai ukuran yang makro dapat terlihat langsung oleh mata tanpa bantuan alat. Salah satu organisme yang terdapat di perairan adalah plankton. Plankton merupakan organisme mikroskopis yang berada di permukaan perairan dan berfungsi sebagai produsen ekosistem perairan. Sebagai biota mikroskopis perairan, plankton sangat berperan sebagai produsen primer dan sekunder (Nybakken, 2012).
Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah plankton menyerupai tumbuhan yang bebas melayang dan hanyut dalam perairan serta mampu berfotosintesis. Zooplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani (Gusrina, 2008). Fitoplankton merupakan pensuplai utama oksigen terlarut di perairan, sedangkan zooplankton meskipun sebagai pemanfaat langsung fitoplankton, merupakan produsen sekunder perairan (Nybakken, 2012).
Plankton merupakan makanan alami larva organisme perairan. Keragaman spesies plankton di dalam ekosistem perairan sering digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui produktivitas primer perairan dan kondisi ekosistem perairan tersebut. Kedua hal tersebut memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Plankton menjadi salah satu bioindikator untuk mengetahui produktivitas ekosistem perairan karena memiliki peran sebagai produsen. Produktivitas primer adalah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya energi dari senyawa-senyawa anorganik. Sedangkan ekosistem dengan keragaman rendah adalah tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh tekanan dari luar dibandingkan dengan ekosistem yang memiliki keragaman tinggi. Kondisi suatu ekosistem tidak stabil dan rentan yang terjadi dapat mempengaruhi produktivitas primer perairan tersebut sehingga berdampak pada jaring makanan ekosistem.
Berdasarkan penjelasan di atas, plankton memiliki peran yang sangat penting di dalam ekosistem perairan. Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum untuk mempelajari plankton dengan faktor-faktor ekologisnya.
1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum kali ini bertujuan untuk:
a.       Mengetahui keragaman plankton yang ditemukan dalam praktikum diperairan  sungai musi.
b.      Mengetahui jenis-jenis plankton yang ditemukan dalam praktikum diperairan  sungai musi.
c.       Mengetahui hubungan antara keragaman plankton dengan kualitas perairan.
d.      Mengetahui jenis-jenis Bentos  yang ditemukan dalam praktikum diperairan  sungai musi.


B. Tinjuan  Pustaka
2.1 Plankton
Plankton mempunyai masa aktif yang mrip dengan organisme tingkat tinggi dimana untuk phytoplankton akan terdapat dalam jumlah yang besar pada siang  hari dan zooplankton pada malam hari.  Organisme Bentos meliputi jenis-jenis dari kelompok protozoa,  sponge, coelenterata, rotifera, nematoda, bryozoa, decapoda, ostracoda, cladocera, copedoda, pelecypoda, gastropoda, insekta dan lintah. Zonneveld, Huisman dan Boon dalam Odum (1971) mengemukakan bahwa kualitas air mempengaruhi seluruh komunitas perairan (bakteri, tanaman, ikan, zooplankton dan sebagainya).
Istilah plankton pertama kali digunakan oleh Hensen dalam Odum (1971), berasal dari bahasa Yunani yaitu Planktos yang artinya mengembara atau berkeliaran. Menurut Boney dalam Krebs (1985), plankton tersusun atas jasad-jasad hewani mikroskopis (phytoplankton) dan jasad-jasad hewani (zooplankton) yang terdapat di laut maupun air tawar, hidup bebas terapung dan pergerakannya bersifat pasif tergantung adanya arus angin.
Zonneveld, Huisman dan Boon dalam Odum (1971) mengemukakan bahwa kualitas air mempengaruhi seluruh komunitas perairan (bakteri, tanaman, ikan, zooplankton dan sebagainya).
Organisme plankton pada umumnya diambil dengan cara pemekatan air contoh. Pemekatan dimaksuddkan agar organisme-organisme plankton yang tertangkap benar-benar mewakili komunitas plankton di air. Teknik pemekatan air contoh dapat dilakukan dengan berbagai cara menurut Dahuri (1997) yaitu:
a.    Penyaringan (filtration method) dengan plankton net
b.    Pengendapan air contoh (sedimentation method)
c.    Centrifuge
Menurut Fachrul (2007) ukuran Benthos diantaranya adalah makrobenthos yaitu 1.0 mm – 5.0 mm; mesobenthos yaitu 0.1 – 1.0 mm, dan mikrobenthos yaitu < 0.1 mm. Sedangkan menurut batas biologis digolongkan menjadi fitobenthos (golongan tumbuhan) dan zoobenthos (golongan hewan). Zoobenthos yang hidup di permukaan dasar perairan digolongkan menjadi epifauna, sedangkan zoobenthos yang hidup di dalam dasar perairan disebut infauna.
Keberadaan hewan benthos dipengaruhi oleh kondisi fisik (substrat, kekeruhan, suhu, kedalaman, arus, dan suhu), disamping juga dipengaruhi oleh faktor kimian(pH, oksigen, dan bahan-bahan toksik), dan faktor biologi (predator dan kompetitor).
Untuk mendapatkan sampel bentos diperlukan alat saring (Sieve Set US 30) yang ukuran mata saringnya (mesh size) disesuaikan dengan ukuran organisme yang akan ditangkap. Metode pengambilan sampel benthos menurut Suin (2002) dapat dilakukan dengan:
a.     Metode kolonisasi (dengan container sampler atau core sampler).
b.    Metode perangkap (dengan trap sampler)
c.    Metode tangkap segera (immediate sampler dengan surbur, pipa paralon, Eckman Grab, atau Petersen Grab).
Menurut Sachlan (1980) plankron adalah jasad – jasad renik yang melayang–layang di air, yang pergerakannya selalu mengikuti arus. Plankton ini dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu fitoplankton dan zooplankton.
Siagaan (2001) menjelaskan bahwa Phytoplankton merupakaan tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari beberapa kelas yang sangat tergantung pada cahaya matahari terdapat pada permukaan air sampai kedalaman penetrasi cahaya matahari. Dan Phytoplankton ini merupakan produsen utama, zat-zat organik yang komplek dari bahan-bahan organik dan dari bahan anorganik yang sederhana melalui proses fotosintesis.
Odum (1993) Phytoplankton merupakan makanan bagi zooplankton dan hewan lainnya, sehinga dalam rantai makanan yang paling pokok tersedia secara alami. Phytoplankton memanfaatkan garam – garam organic, kabondioksida, air dan cahaya matahari untuk memproduksi makanannya, kemudian zooplankton atau hewan – hewan lainnya memakan phytoplankton, sehingga dalam rantai makanan phytoplankton merupakan makanan yang paling pokok tersedia secara alami.
Arinardi (1976) zooplankton berperan sebagai konsumen primer merupakan penghubung rantai makanan antara phytoplankton dan konsumen lainnya. Atau dapat dikatakan phytoplankton merupakan makanan sebagian besar organisme akuatik seperti ikan, udang, moluska dan sebagainya. Kelimpahan dan produktifitas plankton sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan. Kondisi lingkungan yang baik akan mendukung kelimpahan dan produktifitas primer plankton.
Berdasarkan Fungsi  
       Plankton digolongkan menjadi empat golongan utama, yaitu:
a. Fitoplankton
Fitoplankton atau plankton nabati adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di perairan. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 µm – 200 µm (1 µm = 0,001 mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal.
Fitoplankton mempunyai fungsi penting di perairan karena bersifat autotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organik makanannya. Selain itu, fitoplankton juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik karena mengandung klorofil dan karena kemampuannya ini fitoplankton disebut sebagai primer producer (Stewart, 1986).
b. Zooplankton
Zooplankton atau plankton hewani adalah hewan yang hidupnya mengapung atau melayang dalam perairan. Kemampuan berenangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, artinya tidak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan anorganik. Jadi zooplankton lebih berperan sebagai konsumen (consumer) bahan organik (D. B, Mukayat, 1994).
Zooplankton ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yaitu ketika masih berupa telur dan larva (D. B, Mukayat, 1994).
c.  Bakterioplankton
Bakterioplankton merupakan bakteri yang hidup sebagai plankton. Bakterioplankton mempunyai ciri yang khas, ukurannya sangat halus (umumnya < 1 µm), tidak mempunyai inti sel dan umumnya tidak mempunyai klorofil yang dapat berfotosintesis (Dianthani, 2003). Fungsi utamanya dalam ekosistem laut adalah sebagai pengurai (decomposer). Semua biota laut yang mati akan diuraikan oleh bakteri sehingga akan menghasilkan hara seperti fosfat, nitrat, silikat, dan sebagainya. Hara ini kemudian akan didaurulangkan dan dimanfaatkan lagi oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis (Dianthani, 2003).
d. Virioplankton
Virioplankton adalah virus yang hidup sebagai plankton. Virus ini ukurannya sangat kecil (kurang dari 0,2 μm) dan menjadikan biota lainnya, terutama bakterioplankton dan fitoplankton, sebagai inang (host). Tanpa inangnya virus ini tak menunjukkan kegiatan hayati. Virioplankton dapat memecahkan dan mematikan sel-sel inangnya (Dianthani, 2003).
Berdasarkan daur hidupnya plankton dibagi menjadi :
1.      Holoplankton
Dalam kelompok ini termasuk plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Kebanyakan zooplankton termasuk dalam golongan ini. Contohnya : kokepod, amfipod, salpa, kaetognat. Fitoplankton termasuk juga umumnya adalah holoplankton (Anonim1, 2010).
2.      Meroplankton
Plankton dari golongan ini berperan sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yaitu pada tahap sebagai telur dan larva saja. Beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton, yaitu hewan yang dapat aktif berenang bebas, atau sebagai bentos yang hidup menetap atau melekat di dasar laut. Oleh sebab itu, meroplankton disebut sebagai plankton sementara.
Meroplankton ini sangat banyak ragamnya dan umumnya mempunyai bentuk yang sangat berbeda dari bentuk dewasanya. Larva crustacea seperti udang dan kepiting mempunyai perkembangan larva yang bertingkat-tingkat dengan bentuk yang sedikitpun tidak menunjukkan persamaan dengan bentuk yang dewasa (Anonim1, 2010).
3.      Tikoplankton
Tikoplankton sebenarnya bukan plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup di dasar laut sebagai bentos. Namun karena gerak air menyebabkan ia terlepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton (Anonim1, 2010).



2.2 Bentos
Benthos adalah organisme (nabati/fitobenthos atau hewani/ zoobenthos) yang tinggal di dalam dan atau di atas sedimen di dasar suatu perairan.
Benthos mencakup semua organisme yang hidup di dasr atau dalam dasr perairan. Menurut batasan biologis digolongkan menjadi fitobentos (golongan tumbuhan) dan zoobentos (golongan hewan). Zoobentos yang hidup di permukaan dasar perairan digolongkan menjadi epifauna, sedangkan zoobentos yang hidup didasar perairan disebut infauna (Dahuri, 1997).
Hehanusa (2001) Bentos adalah organisme yang hidup di permukaan atau di dalam sedimen dasar di suatu badan air. Hewan-hewan benthos dalam memanfaatkan detritus dengan cara suspension feeder yakni dengan cara menyaring partikel-partikel yang masih melayang-layang di air yang ada di sekitarnya dan dengan deposit feeders yakni mengumpulkan detritus yang telah menetap di dasar. Plankton adalah organisme yang hidup di permukaan di suatu badan air.
Benthos merupakan salah satu organisme yang terpenting dalam Ekosistem perairan sehubung dengan peranannya sebagai organisme kecil dalam jaring-jaring makanan. Selain itu tingkat keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat di gunakan sebagai indikator pencemaran. (Pratiwi. Dkk. 2004).
Organisme benthos ini meliputi jenis-jenis dari kelompok Protozoa, Sponge, Coelenterate, Rotifera, Nematode, Bryozoa, Decapoda, Ostracoda, Cladocera, Cpopoda, Pelecypoda, Gastropoda, Insekta, dan Lain-lain. Keberadaan hewan ini di pengaruhi oleh kondisi fisik, di samping itu juga di pengaruhi oleh faktor Kimia dan faktor Biologi. (Haryani. S. 2001).
Menurut Fachrul (2007) ukuran benthos diataranya adalah makrobentos  yaitu 1,0 mm – 5,0 mm, mesobentos yaitu 0,1 – 1,0 mm dan mikrobentos yaitu > 0,1 mm.




C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan tempat
Praktikum ekolgi perairan di alaksanakan pada hari minggu 12 Novemebr 2017. Betempat di perairan sungai musi dari Ampera titik awal hingga ke palau kemaro sumatra selatan dan di lanjutakn di Laboratorium terpadu Universitas PGRI Palembang.
2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ekologi perairan menggunakan alat dan bahan di anataranya : exman Grap, Secchi Disk, pipet tetes, Botol sampel, planton net, GPS, ember, alkohol, cawan petri, kertas saring,open, pH meter, Botol pastik, sampel air, saringan sedimen, Neraca analitik, Mikroskop, dan tali.

D. Hasil dan Pembahasan
1.    Hasil
Lokasi I : 48 UTM                     x :0474399                              Y:  9669709
ketinggian air 2 m
secchi disk 17 cm
PH 7,8
Lokasih II :  48 UTM    x: 0478501                  Y: 9669781
ketinggian 8 m
secchi disk 15 cm
pH 7.8
Berat awal : 0,6 gr
Berat ahir : 0,5 gr
TTS        : 0,6 gr – 0,5 gr / 50
: 0,1 gr/ 50 ml x 20x20
: 2 / 1000
: 0,002


2.    Pembahasan
Dari pengambilan sampel di sungai musi banyak sekali Planton dan bentos, praktikum kali ini terlambat mengamati sehingga yang di amati sampel planton itu mati dan membusuk, dan ada beberapa dari planton yang dapat, dan yang dapat dari bentos terdapat sisik ikan dan sisa sia daun yang telah mati, jadai praktikum yang di amati di praktikum ini platon kami tidak bsia melihat dengan nyata karena tidak palnton dan bentos yang diamati rusak sehingga yang di mati tinggal sisa sisa dari planton dan bentos.
Pengambilan sampel dapat dilakukan baik secara vertikal maupun horisontal. Pengambilan sampel secara vertikal sering mengikuti petunjuk kedalaman standar oseanografi (Michael, 1995). Peralatan sampling yang digunakan untuk pengambilan sampel pada umumnya berbeda-beda menurut ukuran plankton. Pada pengambilan sampel fitoplankton dan nanoplankton dapat dilakukan dengan cara:
1.  Menggunakan jaring plankton yang memilki diameter mulut sebesar 30 cm dan mata jaring 64 mm.
2.  Pengambilan sampel dengan anung Van Dorn atau Niskin, ditampung dalam botol sampel (250 ml) diberi bahan pengawet Formalin atau larutan Lugol.
3.  Pengambilan sampel dengan tabung Van Dorn atau Niskin, selanjutnya dilakukan penyaringan sebanyak lebih dari 21 dengan jaring plankton berdiameter 15 cm dengan mata jaring 20 mm (Michael, 1995).
Pengambilan zooplankton pada umumnya dilakukan dengan menggunakan jaring plankton, meskipun dapat dilakukan dengan cara lain, misalnya melakukan penyedotan air dengan pompa, kemudian air disaring dengan jaring tertentu (102 mm, 200 mm atau 300 mm). Cara ini cukup jarang dilakukan karena memerlukan peralatan khusus dan wahana praktikum yang dilengkapi peralatan listrik agar dapat melakukan penyedotan air dan dalam pengoperasiannya hanya terbatas pada kedalaman permukaan (Michael, 1995).
Pemberian bahan pengawet pada sampel dimaksudkan agar sampel-sampel yang tidak dapat diamati segera setelah pengambilan sampel, tidak mengalami kerusakan. Jenis-jenis bahan pengawet yang umum digunakan di lapangan adalah Formalin, larutan Lugol, dan larutan Bouin. Sedangkan penggunaan alkohol untuk pengawet plankton jarang dilakukan. Pemberian bahan pengawet dilakukan dengan segera setelah sampel ditampung dalam botol sampel agar plankton tidak mengalami kerusakan akibat terjadi proses pembusukan (Michael, 1995).
Terdapat dua metode sampling plankton yang dikenal sesuai dengan tujuannya dibagi menjadi:
1.  Kualitatif, yaitu bertujuan untuk menyesuaikan jenis-jenis plankton.
2. Kuantitatif, yaitu bertujuan untuk mengetahui kelimpahan plankton Hariyanto, 2008).
Metode sampling kuantitatif pada umumnya dilakukan untuk mengetahui kepadatan plankton per satuan volume. Sampling plankton secara kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan jaring plankton (plankton net). Penggunaan jaring plankton, selain sangat praktis, juga memperoleh sampel yang cukup banyak. Jaring plankton umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran dengan panjang jaring sekitar 4-5 kali diameter mulutnya.


E. Kesimpulan
Dari hasil praktikm dapat di simpulkan bahawa :
1.      Planton yang di amti hanya ada sisa sisa dari planton dan bentos yang telah membusuk
2.      terdapat sisik ikan dan daunan yang sadah teruarai
3.      Pemberian bahan pengawet pada sampel dimaksudkan agar sampel-sampel yang tidak dapat diamati segera setelah pengambilan sampel, tidak mengalami kerusakan




DAFTAR PUSTAKA

Barus, T.A. 2002. Pengantar Limmnologi. Medan: Departemen Pendidikan Nasional.

Dianthani, D. 2003. Identifikasi Jenis Plankton di Perairan Muara Badak,Kalimantan Timur. (http://www.geocities.com). Diakses 20 November 2017.

Gusrina, 2008. Budidaya Ikan Jilid I. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Klaten: PT. Macaan Jaya Cemerlang.

Hutagalung, H. P. 1997. Metode Analisis Air Laut Sedimen dan Biota. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Mentari, D. 2012. Sistematika Tumbuhan Rendah. (http:/mentarib1ru.blogspot.com/2012/sistematika_tumbuhan_rendah_5035.html). Diakses pada tanggal 4 Mei 2013.

Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Mukayat, D.B. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

Nyibakken. 2012. Pengertian dan Definisi Plankton. (http://blogger.com/pengertian-dan-definisi-plankton//). Diakses 20 November 2017.

Odum, E. P., 1997. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: UGM Press.

Rahma, Y. F. 2006. Keanekaragaman dan Kelimpahan Makrozoobentos di Hutan Mangrove Hasil Rehabilitasi Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali. Surakarta: UNS Surakarta.

Stewart, M.E., dkk. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Jakarta : UI-press.

Umar, N. A. 2002. Hubungan antara Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton (Kopeoda) dengan Larva Kepiting di Peraian Teluk Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Wickstead, J.H. 1965. An Introduction to the Study of Tropical Plankton Hutchinson.

Yazwar. 2008. Keanaekargaman Plankton dan Keterkaitannya dengan Kualitas Air di Parapat Danau Toba. Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara.
                      



LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
EKOSISTEM SUNGAI MUSI


Disusun Oleh :
Nama               : Syahirul Alim
NIM                  : 2017411019.P
Dosen               : Dr. Syaiful Edddy, M.Si









PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG 2017


BAB I PENGENALAN ALAT EKOLOGI PERAIRAN


BAB I
PENGENALAN ALAT
A.      Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik atau interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya, makhluk hidup dengan makhluk hidup lain, dan lingkungan dengan lingkungan lain. Unit utama ekologi adalah ekosistem. Ekosistem merupakan bagian dari lingkungan, ekosistem memiliki komponen-komponen tertentu yang memiliki fungsi oleh karena itu disebut sebagai suatu system. Komponen-komponen tersebut antara lain abiotik, biotik, fisika, kimiawi, dan sebagainya. Contoh faktor biotik adalah makhluk hidup baik itu manusia, hewan, ataupun tumbuhan. Contoh faktor abiotik yaitu suhu, kelembaban, iklim, curah hujan, dan sebagainya. Beberapa contoh faktor abiotik tersebut adalah sesuatu yang harus diukur oleh karena itu diperlukan alat-alat khusus yang tepat untuk mengukur faktor-faktor abiotik. Untuk itu penting bahwa kita harus mengenal dan mengetahui anam alat serta spesifikasi alat tersebut. Bukan hanya itu saja kita pun harus memahami bagaimana cara kerja alat tersebut dan apa prinsip kerjanya.
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya (hubungan timbal balik). Kehidupan organisme yang ada pada wilayah atau habitat tertentu sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan abiotik maupun biotik. Faktor lingkungan tersebut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap organisme dalam proses perkembangannya. Apabila terjadi gangguan terhadap lingkungan maka secara langsung akan berdampak pada populasi dari organisme tersebut (Odum, 1971).
Lingkungan yang baik pada sebuah habitat akan menjamin keberlangsungan hidup suatu individu. Tidak ada organisme yang mampu berdiri sendiri tanpa dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang ada dan harus ada kondisi lingkungan yang ada tertentu yang berperan terhadapnya dan menentukan kondisi hidupnya. Lingkungan merupakan kompleks dari berbagai faktor yang saling berinteraksi satu sama lainnya, tidak hanya antara faktor biotik dan abiotik, akan tetapi antara biotik itu sendiri dan juga antara abiotik dengan abiotik (Campbell, Reece and Mitchel, 2004).
Alat-alat yang biasa digunakan dalam praktikum ekologi dalam hal pengukuran data antara lain: alat pengukur suhu, kelembapan, pH, DO,salinitas, ketinggian, kemiringan tempat, pengukur kecepatan angin, alat pengukur jarak, tinggi, diameter (penggaris, meteran, jangka sorong), selainitu ada pula alat pengukur volume, massa jenis, pengukur berat, pengukur intensitas cahaya, pengukur kecepatan arus air, pengukur kecerahan air dan  pengukur  kecepatan. Alat-alat sampling yang biasa digunakan ketikamelakukan sampling antara lain: jaring plankton, botol sampler, soil sampler, insect trap, dan lain sebagainya. Ada pula alat yang digunakan untuk memperoleh data di lapangan yaitu kaca pembesar, kompas dan GPS (Global  Positioning System).

2.      Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum pengelan alat ekolgi peraiaran yaitu Untuk mengetahui berbagai macam alat yang ada di laboratorium beserta fungsi dan cara kerjanya.

B.       Tinjauan Pustaka
1.      Termometer
Termometer berfungsi untuk mengukur suhu suatu larutan . Termometer  bukan hanya untuk mengukur suhu larutan saja, tapi termometer juga bisa digunakan untuk mengukur suhu tubuh manusia apakah kita demam atau tidak. Termometer  juga digunakan untuk mengetahui suhu kamar, untuk mengetahui berapa suhu oven untuk memasak dan sebagainya. Termometer klinis digunakan untuk mengukur suhu tubuh manusia. Ada dua macam termometer klinis, yaitu termometer klinis analog dan termometer klinis digital. Hasil pengukuran termometer analog ditunjukkan dengan angka-angka skala yang tercetak di samping permukaan raksa dalam pipa kapiler.
Pengukuran temperatur dapat dilakukan secara kuantitaif dan kualitatif. Pengukuran kauntitatif dinyatakan dalam satuan kalori, yaitu gram kalori atau kilogram kalori sedangkan pengukuran kualitatif dinyatak dalam derajat celcius, fahrenheit, reamur, atau kelvin. Pengukuran bisa dilakukan dengan termometer. Prinsip kerjanya berdasarkan pemuaian dan penerutan suatu zat padat atau cair akibat pemanasan dan pendinginan (Wirakusumah, 2003).
  1. Salinomometer
Salinometer merupakan alat untuk mengukur salinitas (kadar garam yang terkandung didalam air). Sama halnya dengan refraktometer sebelum penggunaan alat pastikan terlebih dahulu bahwa alat sudah dikaliberasikan (dinolkan).
  1. Soil Tester
Soil tester adalah alat untuk mengukur pH dan kelembapan tanah. Cara pemakaiannya adalah menancapkan ujung alat ke tanah yang ingin diukur, kemudian tekan tombol dengan lama untuk mengukur pH tanah dan dengan tidak menekan tombol untuk mengukur kelembapan tanah. Liat penunjuk pada soil tester. Nilai yang di atas menunjukkan nilai pH tanah 3-8 dan nilai yang di bawah menunjukkan nilai kelembapan tanah dalam satuan (x 10%)
  1. Sechi Disk
Kegunaan untuk mengukur kecerahan air atau sejauh mana cahaya masuk dalam air dengan satuan meter
  1. Water Sample
Deep Water Sampel, berbentuk tabung transparan untuk dipergunakan secara vertikal, mekanisme kerjanya, sebuah kait akan menahan tabung tetap terpisah dari tutup atas dan tutup bawahnya. Kait tersebut terhubung pada tali yang mempunyai penanda dalam meter. Masukkan alat tersebut dengan kait terpasang kedalam badan air yang akan diambil sampelnya. Air akan masuk ke dalam tabung dan keluar lewat bagian atas, terus berganti selama tabung bergerak menuju kedalaman tertentu. Setelah kedalaman yang diinginkan tercapai, jatuhkan beban yang terpasang pada tali. Beban akan menghantam kait, dan tutup atas dan tutup bawah tabung akan berberak mengunci tabung sehingga air yang di dalam tabung tidak akan bertukar lagi. Naikkan tabung dengan menyeret talunya ke atas. Praktis dan sederhana, dan sampel air dijamin tidak akan terkontaminasi oleh air lainnya pada kedalaman yang berbeda.
  1. Jaring Plankton
Fungsi dari Jaring Plankton ini adalah untuk menangkap plankton, yaitu sejenis organisme yang menempel di perairan. Semua jaring plankton berbentuk kerucut, dengan mulut rasio panjang 1:03-1:05. Jaring kecil (lima sampai delapan inci dan diameter 15-20 inci panjang) cocok untuk amatir.
Cara Kerja Jaring Plankton: Mulut dipegang terbuka dengan mulut jaring diatasnya, lalu di masukkan kedalam air agar semua air beserta plankton ikut terbawakedalam jaring ,air disaring pada jaringnya lalu kerucut dibawah jaring untuk menangkap plankton yang terjerat.
  1. GPS
Prinsip penentuan posisi dengan GPS yaitu menggunakan metode reseksi jarak, dimana pengukuran jarak dilakukan secara simultan ke beberapa satelit yang telah diketahui koordinatnya. Pada pengukuran GPS, setiap epoknya memiliki empat parameter yang harus ditentukan  3 parameter koordinat X,Y,Z atau L,B,h dan satu parameter kesalahan waktu akibat ketidaksinkronan jam osilator di satelit dengan jam di receiver GPS.
Oleh karena diperlukan minimal pengukuran jarak ke empat satelit. Beberapa kemampuan GPS  antara lain dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan, dan waktu secara cepat, akurat, murah, dimana saja di bumi ini tanpa tergantung cuaca. Hal yang perlu dicatat bahwa GPS adalah satu-satunya sistem navigasi ataupun sistem penentuan posisi dalam beberapa abad ini yang memiliki kemampuan handal seperti itu. Ketelitian dari GPS dapat mencapai beberapa mm untuk ketelitian posisinya, beberapa cm/s untuk ketelitian kecepatannya dan beberapa nanodetik untuk ketelitian waktunya. Ketelitian posisi yang diperoleh akan tergantung pada beberapa faktor yaitu metode penentuan posisi, geometri satelit, tingkat ketelitian data, dan metode pengolahan datanya.
Ada 3 macam tipe alat GPS, dengan masing-masing memberikan tingkat ketelitian (posisi) yang berbeda-beda. Tipe Navigasi (Handheld, Handy GPS). Tipe nagivasi harganya cukup murah, sekitar 1 – 4 juta rupiah, namun ketelitian posisi yang diberikan saat ini baru dapat mencapai 3 sampai 6 meter. Tipe geodetik single frekuensi (tipe pemetaan), yang biasa digunakan dalam survey dan pemetaan yang membutuhkan ketelitian posisi sekitar sentimeter sampai dengan beberapa desimeter. Tipe Geodetik dual frekuensi yang dapat memberikan ketelitian posisi hingga mencapai milimeter. Tipe ini biasa digunakan untuk aplikasi precise positioning seperti pembangunan jaring titik kontrol, survey deformasi, dan geodinamika.  Harga receiver tipe geodetik cukup mahal, mencapai ratusan juta rupiah untuk 1 unitnya.
GPS memancarkan dua sinyal yaitu frekuensi  L1 (1575.42 MHz) dan L2 (1227.60 MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal pseudo-random yaitu kode P (Protected) dan kode C/A (coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya membawa kode P. Setiap satelit mentransmisikan kode yang unik sehingga penerima (receiver GPS) dapat mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada saat fitur ”Anti-Spoofing” diaktifkan, maka kode P akan dienkripsi dan selanjutnya dikenal sebagai kode P (Y) atau kode Y.

  1. Pengertian DO, BOD dan COD
Kehidupan mikroorganisme, seperti ikan dan hewan air lainnya, tidak terlepas dari kandungan oksigen yang terlarut di dalam air, tidak berbeda dengan manusia dan mahluk hidup lainnya yang ada di darat yang juga memerlukan oksigen dari udara agar tetap dapat bertahan hidup, karena air yang tidak mengandung oksigen tidak dapat memberikan kehidupan bagi mikroorganisme, ikan dan hewan air lainnya.
Untuk memenuhi kehidupannya, manusia tidak hanya tergantung pada makanan yang berasal dari daratan saja (beras, gandum, sayuran, buah dan daging), akan tetapi juga tergantung pada makanan yang berasal dari air (ikan, kerang, cumi-cumi dan rumput laut). Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari melakukan fotosintesis yang menghasilkan oksigen dimana oksigen yang dihasilkan dari akan larut di dalam air. Selain itu, oksigen yang ada di udara dapat masuk pula ke dalam air melalui proses difusi yang secara lambat menembus permukaan air. Konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air tergantung pada tingkat kejenuhan air itu sendiri, kejenuhan air dapat disebabkan oleh koloidal yang melayang di dalam air oleh jumlah larutan limbah yang terlarut di dalam air, selain itu suhu air dan tekanan udara juga dapat mempengaruhi konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air dikarenakan tekanan udara mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air (Rezki. 2010).
Kemajuan industri dan teknologi seringkali berdampak pula terhadap keadaan air lingkungan, baik air sungai, air laut, air danau maupun air tanah. Dampak ini disebabkan oleh adanya pencemaran air yang disebabkan oleh berbagai faktor. Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah, hal dikarenakan oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/ mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai dengan bau busuk). Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai dengan bau busuk). Selain dari itu, bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di dalam air, makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya. Bahan buangan organik biasanya berasal dari industri kertas, industri penyamakan kulit, industri pengolahan bahan makanan (seperti industri pemotongan daging, industri pengalengan ikan, industri pembekuan udang, industri roti, industri susu, industri keju dan mentega), bahan buangan limbah rumah tangga, bahan buangan limbah pertanian, kotoran hewan dan kotoran manusia dan lain sebagainya (Habib. 2011).
Oksigen terlarut ( DO ) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal darifotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut di suatu perairan sangatberperan dalam proses penyerapan makanan oleh mahkluk hidup dalam air. Oksigenterlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan kebutuhanoksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisiskualitas air (Ficca. 2009).
Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air dapat ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan telah terjadi. Dapat diketahui dengan menggunakan uji COD dan BOD. BOD singkatan dari Biochemical Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen biologi untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan didalam air limbah oleh mikroorganisme. Dalam hal ini bungan organik akan dioksidasi oleh mikroorganisme didalam air limbah, proses ini adalah alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang cukup. Sedangkan COD (Chemical Oxygen Demand) atau oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan didalam air, dalam hal ini bahan buangan organik akan dioksidasi oleh bahan kimia yang digunakan sebagai sumber oksigen oxidizing agent (Habib. 2011).

  1. Prinsip Pemeriksaan BOD dan COD
COD (Chemical Oxygen Demand = Kebutuhan Oksigen Kimia) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organic yang ada dalam sampel air, dimana pengoksidasi K2 Cr2 O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air (Habib, 2011).
Oksidi-reduktometri merupakan salah satu macam titrasi. Oksidi-reduktometri adalah metode titrimetri berdasarkan reaksi reduksi dan oksidasi dari titran dan titrat. Oksidi-reduktometri digunakan untuk analisis logam dalam suatu persenyawaan dan analisis senyawa organik. Oksidimetri adalah teknik titrasi yang menggunakan titran sebagai suatu oksidator. Salah satu teknik ini adalah permanganometri. Pada metode ini, titran yang digunakan adalah ion permanganat, khususnya dalam bentuk garam kalium permanganat. Ion permanganat bertindak sebagai oksidator dengan hasilreaksi berupa ion Mn 2+ (Rezki, 2010). 
Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air Sedangkan angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat organik yang tersuspensi dalam air.  Melalui kedua cara tersebut dapat ditentukan tingkat pencemaran air lingkungan (Habib, 2011).
Pada titrasi iodometri, analit yang dipakai adalah oksidator yang dapat bereaksi dengan I- (iodide) untuk menghasilkan iod, iod yang terbentuk secara kuantitatif dapat dititrasi dengan larutan tiosulfat. Dari pengertian diatas maka titrasi iodometri adalah dapat dikategorikan sebagai titrasi kembali. Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-kadang dinamakan iodometr i), adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia (Dinda, 2010).
Perbedaan dari kedua cara uji oksigen terlarut di dalam air secara garis besar yaitu chemical oxygen demand adalah kapasitas air untuk menggunakan oksigen selama peruraian senyawa organik terlarut dan mengoksidasi senyawa anorganik seperti amonia dan nitrit. Sedangkan biological (biochemical) oxygen demand adalah kuantitas oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme aerob dalam menguraikan senyawa organik terlarut. Jika BOD suatu air tinggi maka dissolved oxygen (DO) menurun karena oksigen yang terlarut tersebut digunakan oleh bakteri.
Selain itu kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air. Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping paramter lain seperti BOD dan COD. Di dalam air, oksigen memainkan peranan dalam menguraikan komponen-komponen kimia menjadi komponen yang lebih sederhana. Oksigen memiliki kemampuan untuk beroksida dengan zat pencemar seperti komponen organik sehinggazat pencemar tersebut tidak membahayakan. Oksigen juga diperlukan oleh mikroorganisme, baik yang bersifat aerob serta anaerob, dalam proses metabolisme. Dengan adanya oksigen dalam air, mikroorganisme semakin giat dalam menguraikan kandungan dalam air (Rizki, 2010).
Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia seperti aksigen terlarut (DO). Semakin banyak jumlah DO (dissolved oxygen ) maka kualitas air semakin baik. Jika kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin saja terjadi. Satuan DO dinyatakan dalam persentase saturasi.Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasibahan ± bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen.   dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasilfotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000).

C.      Hasil dan Pembahasan
1.      Hasil
No
Nama Alat
Gambar
Fungsi
1
Termometer








Untuk Mengukur suhu atau perubahan suhu
2
GPS ( Global Plastion system )








Untuk Menetukan Letak, kecepatan, arah, dan Waktu
3
Soil Tester








Utuk Mengukur pH dan kelembapan tanah
4
pH Meter








Untuk Mengukur pH ( kadar keasaman atau Basa) suatu cairan
5
DO Meter    
( Dissolve Oxygen) 










Untuk Mengkur kadar Oksigen terlarut
6
COD Meter












Untuk Mengukur Jumlah Oksigen yang dibutuhkan untuk Memgoksidasi bahan organik yang terdapat dalam air

7
BOD Meter









Untuk Mengkur jumlah  Oksigen digunakan Oleh populasi Mikroba yang terkandung dalam perairan
8
Solt Meter











Untuk Mengukur salinitas atau kadar garam dalam air
9
TTS










Untuk Mengukur padatan yang tersupensi dalam air
10
Secchi Disk











Untuk Mengukur tingkat Kekeruhan ahir
11
Mikroskop











Untuk Menlihat dan mengamati benda-benda yang berukuran sangat kecil.
12
Planton Net








untuk menangkap plankton
13
Water Sampel









Untuk pengambilan sample di perairan    Alat dimasukan kedalam air

2.      Pembahasan
Dari praktikum yang dilakukan untuk pengenalan alat pengukuran suhu udara yaitu dengan menggunakan suhu udara. Alat ini berbentuk batangan yang memiliki skala pengukuran dalam satuan calvin atau fahreinhait. Termometer yang sebaiknya digunakan pada penelitian  adalah Termometer maksimum-minimum. Pengecekkan data dapat dilakukan minimal sekali sehari. Menurut Setiadi (1989), Termometer raksa tidak bisa digunakan untuk penelitian karena hanya dapat digunakan pada suatu waktu saja, selain itu termometer raksa membutuhkan biaya yang cukup besar resta perawatan alat yang rutin.
Menurut Handayanto dan  Hiriah  (2009), untuk mengukur suhu tanah dipergunakan alat weksler. Termometer pada alat ini disimpan dalam tabung kayu yang ujungnya berupa logam meruncing. Antara logam dengan termometer terdapat serbuk logam yang menutupi ujung termometer dan terdapat pada bagian atas logam meruncing tadi. Panas dari tanah akan mempengaruhi logam dan kemudian akan diinduksikan ke serbuk logam.
Prinsip Kerja Jaring Plankton Semua jaring plankton berbentuk kerucut, dengan mulut rasio panjang 1:03-1:05. Jaring kecil (lima sampai delapan inci dan diameter 15-20 inci panjang) cocok untuk amatir. Cara Kerja Jaring Plankton Mulut dipegang terbuka dengan sebuah cincin melingkar kaku, dan ditarik melalui air pada satu baris yang berakhir pada ‘tali kekang’ sepotong tiga-mana melekat pada cincin mulut. Jaring selalu terbuat dari ‘Nitex “(merek dagang terdaftar). Ini jaring nilon diobati sehingga bukaan mesh persegi dimensi yang dikenal tetap konstan apapun yang Anda lakukan dengan bersih. Ujung runcing bersih telah mengumpulkan botol PVC (atau ‘ember’) yang mudah dilepas – ini adalah di mana hewan ditangkap berakhir. Fungsi Jaring Plankton dari Jaring Plankton ini adalah untuk menangkap bethos, yaitu sejenis organisme yang menempel di perairan.
Berdasarkan data pengamatan setiap alat-alat ekologi memiliki fungsi dan operasi kerja yang berbeda. Pengenalan alat sangat penting dilakukan hal ini dalam pengumpulan data banyak melibatkan pengukuran dalam Ekologi. Pengukuran cuplikan tersebut biasanya melibatkan alat-alat tertentu. Supaya alat yang kita gunakan dapat mengukur dengan benar, sehingga diperoleh data yang representative, maka alat yang digunakan harus dikenali dan diketahui prosedur operasinya. Alat - alat yang digunakan dalam ekologi mempunyai fungsi dan cara kerja yang berbeda. Oleh karena itu perlu adanya pengenalan alat-alat yang meliputi fungsi atau kegunaan alat, cara pemakaian dan prinsip kerja. Sehingga ketika praktikum di lapangan mahasiswa mampu menggunakan alat-alat dengan benar dan tepat. Kesesuaian dan cara pemakaian alat akan sangat berpengaruh pada data yang diambil (Wirakusumah, 2003).
Prosedur operasional dari alat-alat yang digunakanan sesungguhnya bisa kita pelajari secara manual yang selalu disertakan dalam alat tersebut. Dengan mempelajari manual tersebut, diharapkan data yang diperoleh bisa lebih akurat dan dapat dipertanggung jawabkan sehingga mencerminkan kondisi yang akurat sebagai sebuah karya ilmiah yang semestinya.




D.    Kesimpulan
  Pengetahuan tentang alat - alat laboratorium ekologi perlu dipelajari oleh setiap mahasiswa atau praktikan agar dapat menggunakan alat dengan baik sesuai dengan fungsi dan cara kerja alat ketika alat tersebut dibutuhkan. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium memerlukan perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik masing-masing. Perlakuan yang salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan alat dan bahan di Laboratorium dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan, serta terjadinya kecelakaan kerja. Cara memperlakukan alat dan bahan di Laboratorium secara tepat dapat menentukan keberhasilan dan kelancaran kegiatan.Adapun perlakuan terhadap alat-alat di laboratorium seperti:
a.       Membawa alat sesuai petunjuk penggunaan.
b.      Menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan.
c.       Menjaga kebersihan alat
d.      Menyimpan alat
Bila hal-hal di atas tersebut sudah dapat kita lakukan diharapkan praktikum ekologi yang berlangsung dapat berjalan dengan baik karena kedisiplinan para praktikan dalam menggunakan alat.
.


DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N. A. J. B Reece and L.G Mitchel. 2004. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Habib. 2011. OksigenTerlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD.http://biarkanakumenulis.blogspot.com/2009/10/oksigen-terlarut-do-dan -kebutuhan.html. Diakses tanggal 18/01/20114 pukul 08.00 WIB
Michael, P. 1990. Ekologi Untuk Penyediaan Lahan dan Laboratorium. Jakarta Press.Universitas Indonesia
Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Saunder  Com. Phildelphia 125
Setiadi, D. 1989. Dasar-Dasar Ekologi. IPB Press. Bogor
Salmin. 2000. Kebutuhan Oksigen Telarit (DO). Didownload dari http://annisanfushie.wordpress.com.kebutuhan-oksigen-terlarut-2000-(DO). Dikases 21 Oktober 2011
Wirakusumah, Sambas. 2003. Dasar - Dasar Ekologi. Jakarta: UI Press.

                 



LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
PENGENALAN ALAT


Disusun Oleh :
Syahirul Alim
2017411019.P


Dosen Pembimbing :
Dr. Syaiful Edddy, M.Si


PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2017



laporan praktikum paku

BAB I PENDAHULUANA A.Latar Belakang Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu golongantumbuhan yang ...