Saturday, October 19, 2019

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM PERSAINGAN INTRASPESIFIK


LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM
PERSAINGAN INTRASPESIFIK



Disusun Oleh :
Nama            : Syahirul Alim
Nim               : 2017411019.P
Dosen        : Yunita Panca Putri, S.Si., M.Si






PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG 2017


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Organisme hidup di dalam suatu ekosistem yang didalamnya saling berinteraksi antar satu spesies dengan spesies lain. Interaksi tersebut dapat berupa interaksi positif yang saling menguntungkan dapat juga interaksi negatif seperti kompetisi. Kompetisi  tumbuhan dalam suatu spesies mampu di liat pada jarak antar tumbuhan, di mana sebenarnya persaingan yang paling keras terjadi antara tumbuhan yang sama spesiesnya, sehingga tegakan besar dari sepesies tunggal sangat jarang di temukan di alam. Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini mempengaruhi pertumbuhannya karena pada umumnya bersifat merugikan.
 Pengaturan populasi tanaman pada hakekatnya adalah pengaturan jarak tanam yang nantinya akan berpengaruh pada persaingan dalam penyerapan zat hara, air, dan cahaya matahari. Jika hal tersebut tidak diatur dengan baik , hasil tanaman akan ikut terpengaruh. Jarak tanam rapat akan mengakibatkan terjadinya suatu kompetisi, baik inter maupun intraspesies. Penelitian tentang jarak tanam menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam maka semakin tinggi tanaman tersebut dan secara nyata akan berpengaruh terhadap jumlah cabang, luas permukaan daun dan pertumbuhan tanaman. Mengingat pentingnya mengengetahui jarak tanaman ideal untuk pertumbuhan tanaman, maka dilakukan penelitian tentang kompetisi yang terjadi pada tanaman yang sejenis maupun berbedaspesies.
 Kacang hijau dan jagung merupakan jenis tumbuhan dengan habitat yang berbeda. Akan tetapi, jika keduanya ditanam pada satu media bukan tidak mungkin akan terjadi suatu interaksi. Interaksi tersebut tentu saja berupa kompetisi dimana keduanya tidak hanya memperebutkan tempat tumbuh, tetapi juga saling memperebutkan unsur hara, air  dan cahaya matahari untuk berfotosintesis. Hal ini berarti terjadi tumpang tindih relung ekologi antara kacang hijau dan jagung. Tumpang tindihnya relung ekologi antara kacang hijau dan Jagung akan mempengaruhi pertumbuhan dan daya hidup keduanya. Oleh karena itulah percobaan ini dilakukan sehingga dapat diketahui pengaruh kompetisi terhadap pertumbuhan kacang hijau (Vigna radiata).

1.2  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui dan memahami persaingan sesama jenis pada kacang hijau.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengaruh Lingkungan  Terhadap Tumbuhan
 Faktor-faktor lingkungan akan mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons tanaman sebagai akibat faktor lingkungan akan terlihat  pada penampilan tanaman. Tumbuhan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, disini terlihat bahwa tumbuhan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya vegetasi yang tumbuh disekitar ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu. Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok saja yang dapat hidup berdampingan. Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap tumbuhan yang tidak disukainya, yaitu dengan mengeluarkan zat kimia yang dapat bersifat bagi jenis tertentu. Sifat tersebut dinamakan allelopati (Irwan,2007).
2.2 Hubungan atau Interaksi Sesama Tanaman
Dalam usaha mengkomposisikan jenis-jenis tanaman misalnya untuk keperluan estetika, perlu diketahui bahwa hubungan sesama tanaman tertentu memerlukan bantuan tanaman tertentu pula, misalnya untuk perlindungan. Tumbuh-tumbuhan dapat mengahasilkan zat-zat yang dapat merangsang atau meracuni jenis tumbuhan lain. Senyawa-senyawa ini dapat meracuni biji-biji tanaman yang ada disekitarnya (Irwan,2007). Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan  sesama tanaman  yaitu: Adanya kompetisi yang disebabkan kekurangan sumber energy atau sumber daya lainnya yang terbatas seperti sinar matahari, unsur hara, dan air. Kompetisi ini disebut juga alelospoli. Tumbuhan tertentu baik masih hidup atau sudah mati menghasilkan senyawa kimia yang dapat mempengaruhi tumbuhan lain. Senyawa kimia tersebut disebut allelopati. Adanya pengaruh baik fisik maupun maupun biologis lingkungan yang dap[at mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jenis-jenis tumbuhan yang bertindak sebagai tuan rumah atau inang (Irwan,2007).


2.3 Kompetisi
Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan Molles (2002) kompettisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik.
Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005).
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak.organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton,1990).
 Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam,salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secar merugikan.Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi , spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif ( competitive exclusion principles ) .Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua , yaitu kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble atau exploitative competition ), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain.
2.4 Persaingan Dalam Komunitas
Dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Persaingan ini dapat terjadi antara indifidu yang sejenis ataupun antara individu yang berbeda jenis. Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis disebut dengan persaingan intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang berbeda jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik. Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan (Odum, 1971).
Setiap organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas jumlahnya. Yang jadi penyebab terjadinya persaingan antara lain makanan atau zat hara, sinar matahari, dan lain – lain (Setiadi, 1989). Faktor-fator intraspesifik merupakan mekanisme interaksi dari dalam individu organisme yang turut mengendalikan kelimpahan populasi. Pada hakikatnya mekanisme intraspesifik yang di maksud merupakan perubahan biologi yang berlangsung dari waktu ke waktu (Wirakusumah, 2003).
Harter (1961), mengatakan bahwa persaingan intraspesifik di gunakan untuk menggambarkan adanya persaingan antar individu-individu tanaman yang sejenis. Persaingan intraspesifik terdiri atas :
1        Persaingan aktivitas
2        Persaingan sumber daya alam
Dua jenis populasi tumbuhan dapat bertahan bersama bila individu-individunya secara bebas di kendalikan oleh hal – hal sebagai berikut: Perbedaan unsur hara. Perbedaan sebab – sebab kematian Kepekaan terhadap berbagai senyawa racun. Kepekaan terhadap faktor – faktor yang mengendalikan sama dan pada waktu yang berbeda. Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik pada tumbuhan, yaitu : Jenis tanaman Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, system perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki system perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsure hara. Bentuk daun yang lebar pada daun talas menyebabkan laju transpirasi yang tinggi sehingga menimbulkan persaingan dalam memperebutkan air.
Kepadatan tumbuhan Jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman. Penyebaran tanaman Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan rimpang. Namun persaingan yang terjadi karena factor penyebaran tanaman sangat dipengaruhi factor-faktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen, dan air.


BAB III
METEDOLOGI PRAKTIKUM

3.1  Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari jum’at, tanggal 24 November  2017 pukul 14:40-16:20 WIB.Bertempat di laboratorium Terpadu Universitas PGRI  Palembang.

3.2  Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan untuk praktikum yaitu; kapas, karter/ silet, botol dan lebel.
3.2.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan untuk praktikum yaitu; aquades dan kacang hijau (Vigna radiata).
.


3.3  Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum ini yaitu:
1.      Siapkanlah bahan-bahan yang akan di gunakan
2.      Pilih kacang hijau yang sudah di rendam
3.      Potong botol
4.      masukan kapas yang telah di basahi air atau aquades
5.      masukan kacang kedalm botol yang sudah di isi kapas basah dengan perbandingan 1:3:5
6.      siram sebanyak nya kemedia yang digunakan
7.      Amati selama satu minggu dengan jarak 2 atau 3 hari sekali


4.2 Pembahasan
Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala yaitu 3 hari sekali. Data yang didapat dicatat dan disusun berdasarkan hari atau tanggal pengamatannya hingga waktu panen tiba yaitu setelah sekitar satu bulan. Pada saat panen dilakukan pengukuran faktor  fisik akhir seperti yang dilakukan di awal. tinggi batang kacang hijau pencobaan 1A, ulangan 1,2 dan 3 masing masing 0,7 cm. Pencobaan 2A dengan ulangan 1 dan 2 yaitu 0,7 cm, dan ulangan 3 yaitu 0,3 cm. pencobaan 2B dengan ada yang satu tidak tumbuh dan ulanag 1 yaitu 0,7 cm dan ulangan 3 dengan 0,5 cm. pencobaan 3A ulanagan 1 dan 2  yaitu 1 cm dan 2 cm. Pencobaan  3B dengan ulangan 1 yaitu 2 cm, dan ulangan 2 dan 3 yaitu 1 cm. pada pencobaan 3C, hanya satu ulangan yang tumbuh batang yaitu ulangan 2 yaitu 1,5 cm, pencobaan 3D yaitu ulanagn 2 dan 3 yang tumbuh yaitu 0,7 cm. dan Pencobaan 3E, dengan ulangan 1 yang tumbuh 0,3 cm. ulangan 2 yaitu 1cm, dan ulanagan 3 dengan ukuran 0,3 cm.  dan  tidak ada tumbuh daun.
pada penagamatan kedua  pencobaan 1A,  ulangan 1 yaitu 1 cm, ulangan 2 dan 3 yaitu 1,5 cm,  jumlah daun yaitu 2 helai. dengan warna hijau. pada pencobaan 2A tinggi batang  ulangan 2 dan 3 sama yaitu 1 cm, dan ulangan 3 yaitu 4 cm dengan daun 2 helai pada ulanagan 1 yang berwarna hijau.  Pada pencobaan 2B tinggi  batang ulangan 1 dengan tinggi batang  yaitu 2,5 cm dan ulangan 3 yaitu 0,9 cm tidak ada daun. pada pencobaan 2C ulanag 1 tinggi batang yaitu 1,5 cm, ualanag  2 yaitu 1 cm, dan ulanag 3 yaitu 2,5 cm dan tidak ada daun. pada pencobaan 3A, dengan ulangan 1 yaitu 3 cm , dan memiliki 2 helai daun dengan warna hijau, ulanagan 2 yaitu 2,5 cm , dan ulangan 3 yaitu 0,5 cm. Pencobaan 3B dengan ulangan 1 yaitu 4 cm, ulangan 2 yaitu 1,5 cm dan ulanagn 3 yaitu 2 cm, tidak ada daun. Pada pencobaan 3C dengan ulangan 1 yaitu 0,2 cm. ulangan 2 yaitu 2,5 cm, dan ulangan 3 yaitu 0,5 cm dan tidak ada daun. pada Pencobaan 3D  pada ulanag 2 dan 3 sama yaitu 1 cm dan ulangan 1 yaitu 0,1 cm dan tidak ada daun. Pencobaan 3E dengan tinggi batang  ulangan 1 dan 3 sama yaitu 0,5 cm. dan ulangan 2 yaitu 1,5 cm dan tidak ada daun.
pada penagamatan  Ketiga   pencobaan 1A,  ulangan 1 yaitu 3,5 cm, ulangan 2  yaitu 2.,5  dan ulangan  3 yaitu 5,5 cm,  jumlah daun yaitu 2 helai pada ulanag 1 dan 3. dengan warna hijau.  pada pencobaan 2A tinggi batang  ulangan 2 dan 3 sama yaitu  1,2  cm, dan ulangan 1 yaitu 5,5  cm dengan daun 2 helai pada ulanagan 1 yang berwarna hijau.  Pada pencobaan  2B tinggi  batang ulangan 1 dengan tinggi batang  yaitu  3 cm dan ulangan 3 yaitu 1,5  cm tidak ada daun. pada pencobaan  2C ulanag 1 tinggi batang yaitu 4 cm, ualanag 2 yaitu  1,5 cm, dan ulanag 3 yaitu 3 cm dan tidak ada daun. pada pencobaan 3A, dengan ulangan 1 yaitu 3,2 cm , dan memiliki 2 helai daun dengan warna hijau, ulanagan 2 yaitu 3 cm , dan ulangan 3 yaitu 5 cm. Pencobaan 3B dengan ulangan 1 yaitu 2,7cm, ulangan 2 yaitu  2,5 cm dan ulanagn 3 yaitu 3 cm, tidak ada daun. Pada pencobaan 3C dengan ulangan 1 yaitu  0,7 cm. ulangan 2 yaitu 3,5 cm, dan ulangan 3 yaitu 0,5 cm dan tidak ada daun. pada Pencobaan 3D  pada ulanag 2 dan 3 sama yaitu 1,2 cm dan ulangan 1 yaitu 0.7 cm dan tidak ada daun. Pencobaan 3E dengan tinggi batang  ulangan 1 dan 3 sama yaitu 0,7 cm. dan ulangan  2 yaitu 1,7 cm dan tidak ada daun.
pada penagamatan keempat pencobaan 1A,  ulangan 1 yaitu 5,5 cm, ulangan 2  yaitu  4cm dan  ualanagn 3 yaitu 10 cm,  jumlah daun yaitu 2 helai. dengan warna hijau. pada pencobaan 2A tinggi batang ulangan 1 yaitu 7,6 cm , ulangan 2 yaitu 4,5 cm dan ulangan 3 yaitu dan jumlah daun yaitu masing masing 2 helai dengan warna hijau. Pencobaan 2B dengan ulangan 1 yaitu 4,5 cm dan ulangan 3 yaitu 2,7  masing masing helai daun yaitu 2 helai dengan warna hijau. pencobaan 2C ulangan 1 yaitu 5 cm, ulangan 2 yaitu 3,4 cm, dan ulangan 3 yaitu 2 cm dengan tidak ada daun. Pencobaan 3A dengan ulangan 1 dan 2 yang sma yaitu 4 cm. dan ulangan 3 yaitu 8 cm dan masing-masing helai daun pada ulnagan 2 dan 3 dengan warna hijau.  pencobaan 3B dengan ulangan 1 dan dua yang sama yaitu 3 cm. dan ulanagan 3 yaitu 6 cm. dengan masing-masing  2 helai dauin pada ulangan 2 dan 3 dengan warna hijau. pencobaan 3C ulanagan 1 yaitu 1,5 cm. ulangan 2 dengan ukuran batang 2 cm, dan ulangan 3 yaitu 0,7 cm dengan 2 helai daun yang berwarna hijau. pencobaan 3D dengan ulangan 1 yaitu 1 cm, ulangan 2 yaitu 2cm dan ulangan 3 yaitu 1,7 cm jumlah daun 2 helai dan warna hijau. dan Pencobaan  3E ulangan 1 yaitu  1 cm, ulangan 2 yaitu 1,5 cm dan  ulangan 3  yaitu 2 cm dengan 2helai daun yang warna daun hijau.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kompetisi antar tumbuhan dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitu kemampuan biji atau tumbuhan tersebut untuk  bertahan hidup berdampingan dengan tumbuhan lain.Faktor eksternal yang menjadi perebutan antar tanaman diantaranya intensitas cahaya, unsure hara, suhu, air, oksigen , dan karbondioksida. Selain faktor yang menjadi perebutan, ada juga faktor yang mempengaruhi keadaan fisiologis pertumbuhan tanaman diantaranya kondisi tanah, kelembaban tanah, udara,angin, dan gangguan dari spesies-spesies tertentu di suatu habitat juga dapat  berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan fisiologis tumbuhan. 
Biji suatu tanaman dapat mengakhiri masa dormansinya apabila terdapat faktor-faktor yang mengukung pemutusan dormansi. Beberapa hal yang berpengaruh terhadap pemutusan dormansi biji adalah struktur biji itu sendiri, sedangkan faktor lingkungan yang berpengaruh adalah kadar air, kelembaban tanah, suhu tanah, intensitas cahaya dan faktor fisik lainnya.
Faktor-faktor  pada tabel diatas adalah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman biji jagung dan biji kacang hijau pada praktikum ini. Faktor-faktor tersebut diukur agar mengetahui keadaan makroklimat pada awal penanaman dan akhir penanaman. Dan selama pengamatan pertumbuhan tanaman, yang lebih dilihat adalah persaingan yang terjadi antara biji yang ditanam dalam 1 dalam botol ysng di buka baik persaingan intaraspesifik ataupun persaing interspesifiknya.
Tinggi tanaman kacang hijau lebih Persaingan diantara tumbuhan ini secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem ini akan bersaing untuk mendapatkan air dan bahan makanan. Dan karena mereka tidak bergerak, maka ruang menjadi faktor penting, di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi menguasai sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembaban serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994).
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang dilakukan terhadap tanaman jagung dan kacang hijau selama kurang lebih 21 hari maka dapat disimpulkan bahwa :
a.       Pertumbuhan tanaman kacang hijau lebih cepat daripada tanaman jagung maka kacang hijau adalah pemenang dalam kompetisi intraspesifik dan interspesifik.
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan intraspesifik dan interspesifik adalah kepadatan atau jarak tanaman, luas lahan tanam, jenis tanaman, dan waktu lamanya tanaman hidup.
c.       Semakin rapat jarak suatu tanaman maka pertumbuhannya akan semakin terhambat karena persaingan mendapatkan sumber daya atau unsur hara dari tanah semakin ketat.
d.      Cepat atau lambatnya perkecambahan pada tanaman juga berpengaruh terhadap menangnya suatu tanaman dalam berkompetisi.m
e.       Terjadinya kompetisi antar tanaman dapat menyebabkan tanaman mati

5.2 Saran
Pada saat  pelaksanaan praktikum bahan dan alat yang digunakan yang dibutuhkan sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu, agar dapat membantu memperlancar jalannya praktikum sehingga asisten dan praktikan dapat melaksanakan tugasnya masing – masing dengan lancar
DAFTAR PUSTAKA

Irwan, Z.D.. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta. Bumi Aksara:

Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan         Laboratorium. Jakarta.UI Press .

Naughhton.1973. Ekologi Umum edisi Ke 2. Yogyakarta. UGM Press 

Odum, E.P. 1971. Dasar-dasar Ekologi (diterjemahkanTjahjono, S. dan Srigandono, B) Yogyakarta: Penerbit Universitas Gajah Mada.

Setiadi, Dedi, Muhadiono, Ayip Yusron.1989. Penuntun Praktikum Ekologi. Bogor. PAU Ilmu Hayat IPB:

Wirakusumah, S. 1003. Dasar-dasar Ekologi bagi populasi dan Komunitas. Jakarta. UI-Press:






No comments:

Post a Comment

laporan praktikum paku

BAB I PENDAHULUANA A.Latar Belakang Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu golongantumbuhan yang ...