LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM
PERSAINGAN INTRASPESIFIK

Disusun Oleh :
Nama
: Syahirul Alim
Nim
:
2017411019.P
Dosen : Yunita Panca Putri, S.Si., M.Si
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG 2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Organisme hidup di dalam suatu ekosistem yang didalamnya saling
berinteraksi antar satu spesies dengan spesies lain. Interaksi tersebut dapat
berupa interaksi positif yang saling menguntungkan dapat juga interaksi negatif
seperti kompetisi. Kompetisi tumbuhan
dalam suatu spesies mampu di liat pada jarak antar tumbuhan, di mana sebenarnya
persaingan yang paling keras terjadi antara tumbuhan yang sama spesiesnya,
sehingga tegakan besar dari sepesies tunggal sangat jarang di temukan di alam.
Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini mempengaruhi pertumbuhannya karena
pada umumnya bersifat merugikan.
Pengaturan populasi tanaman
pada hakekatnya adalah pengaturan jarak tanam yang nantinya akan berpengaruh
pada persaingan dalam penyerapan zat hara, air, dan cahaya matahari. Jika hal
tersebut tidak diatur dengan baik , hasil tanaman akan ikut terpengaruh. Jarak
tanam rapat akan mengakibatkan terjadinya suatu kompetisi, baik inter maupun
intraspesies. Penelitian tentang jarak tanam menunjukkan bahwa semakin rapat
jarak tanam maka semakin tinggi tanaman tersebut dan secara nyata akan
berpengaruh terhadap jumlah cabang, luas permukaan daun dan pertumbuhan
tanaman. Mengingat pentingnya mengengetahui jarak tanaman ideal untuk
pertumbuhan tanaman, maka dilakukan penelitian tentang kompetisi yang terjadi
pada tanaman yang sejenis maupun berbedaspesies.
Kacang hijau dan jagung
merupakan jenis tumbuhan dengan habitat yang berbeda. Akan tetapi, jika
keduanya ditanam pada satu media bukan tidak mungkin akan terjadi suatu
interaksi. Interaksi tersebut tentu saja berupa kompetisi dimana keduanya tidak
hanya memperebutkan tempat tumbuh, tetapi juga saling memperebutkan unsur hara,
air dan cahaya matahari untuk berfotosintesis.
Hal ini berarti terjadi tumpang tindih relung ekologi antara kacang hijau dan
jagung. Tumpang tindihnya relung ekologi antara kacang hijau dan Jagung akan
mempengaruhi pertumbuhan dan daya hidup keduanya. Oleh karena itulah percobaan
ini dilakukan sehingga dapat diketahui pengaruh kompetisi terhadap pertumbuhan kacang hijau (Vigna
radiata).
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari
praktikum ini yaitu untuk mengetahui dan memahami persaingan sesama jenis pada
kacang hijau.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengaruh
Lingkungan Terhadap Tumbuhan
Faktor-faktor lingkungan akan
mempengaruhi fungsi fisiologis tanaman. Respons tanaman sebagai akibat faktor
lingkungan akan terlihat pada penampilan
tanaman. Tumbuhan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, disini terlihat bahwa
tumbuhan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. Begitu pula biasanya
vegetasi yang tumbuh disekitar ekosistem tersebut juga spesifik atau tertentu.
Karena hanya tumbuhan yang sesuai dan cocok saja yang dapat hidup berdampingan.
Tumbuhan pun mempunyai sifat menolak terhadap tumbuhan yang tidak disukainya,
yaitu dengan mengeluarkan zat kimia yang dapat bersifat bagi jenis tertentu.
Sifat tersebut dinamakan allelopati (Irwan,2007).
2.2 Hubungan atau
Interaksi Sesama Tanaman
Dalam usaha mengkomposisikan jenis-jenis tanaman misalnya untuk
keperluan estetika, perlu diketahui bahwa hubungan sesama tanaman tertentu
memerlukan bantuan tanaman tertentu pula, misalnya untuk perlindungan.
Tumbuh-tumbuhan dapat mengahasilkan zat-zat yang dapat merangsang atau meracuni
jenis tumbuhan lain. Senyawa-senyawa ini dapat meracuni biji-biji tanaman yang
ada disekitarnya (Irwan,2007). Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
hubungan sesama tanaman yaitu:
Adanya
kompetisi yang disebabkan kekurangan sumber energy atau sumber daya lainnya
yang terbatas seperti sinar matahari, unsur hara, dan air. Kompetisi ini
disebut juga alelospoli. Tumbuhan tertentu
baik masih hidup atau sudah mati menghasilkan senyawa kimia yang dapat
mempengaruhi tumbuhan lain. Senyawa kimia tersebut disebut allelopati. Adanya pengaruh baik fisik maupun maupun biologis lingkungan yang
dap[at mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jenis-jenis tumbuhan yang
bertindak sebagai tuan rumah atau inang (Irwan,2007).
2.3 Kompetisi
Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan
kebutuhan akan sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan
bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al
.1990), sedangkan Molles (2002) kompettisi didefinisikan sebagai interaksi
antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka.
Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada
satu spesies yang sama atau interspesifik.
Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi
antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia
terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap
pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam
tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005).
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu
apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan
permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan
terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak.organisme mungkin bersaing
jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang
gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama
secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan
bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton,1990).
Secara teoritis ,apabila dalam
suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi
diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam,salah satunya
adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi
antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar
spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang
mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secar merugikan.Bentuk dari kompetisi
dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya
pemisahan secara ekologi , spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal
tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif ( competitive exclusion
principles ) .Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua , yaitu
kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble atau exploitative
competition ), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber
daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition),
yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain,
meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses
ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang
berpengaruh negatif pada individu lain.
2.4 Persaingan Dalam
Komunitas
Dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua
organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Persaingan ini dapat terjadi
antara indifidu yang sejenis ataupun antara individu yang berbeda jenis.
Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis disebut dengan persaingan
intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang berbeda
jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik. Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut
mempengaruhi pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan (Odum,
1971).
Setiap organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya
alam menjadi terbatas jumlahnya. Yang jadi penyebab terjadinya persaingan
antara lain makanan atau zat hara, sinar matahari, dan lain – lain (Setiadi,
1989). Faktor-fator intraspesifik merupakan mekanisme interaksi dari dalam
individu organisme yang turut mengendalikan kelimpahan populasi. Pada
hakikatnya mekanisme intraspesifik yang di maksud merupakan perubahan biologi
yang berlangsung dari waktu ke waktu (Wirakusumah, 2003).
Harter (1961), mengatakan bahwa persaingan intraspesifik di gunakan
untuk menggambarkan adanya persaingan antar individu-individu tanaman yang
sejenis. Persaingan intraspesifik terdiri atas :
1 Persaingan aktivitas
2 Persaingan sumber daya alam
Dua jenis populasi tumbuhan dapat bertahan bersama bila
individu-individunya secara bebas di kendalikan oleh hal – hal sebagai berikut: Perbedaan unsur hara. Perbedaan sebab –
sebab kematian Kepekaan terhadap
berbagai senyawa racun. Kepekaan terhadap
faktor – faktor yang mengendalikan sama dan pada waktu yang berbeda. Beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan
intraspesifik dan interspesifik pada tumbuhan, yaitu : Jenis tanaman Faktor ini meliputi
sifat biologi tumbuhan, system perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis.
Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki system perakaran yang
menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsure hara.
Bentuk daun yang lebar pada daun talas menyebabkan laju transpirasi yang tinggi
sehingga menimbulkan persaingan dalam memperebutkan air.
Kepadatan tumbuhan Jarak yang sempit
antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan persaingan terhadap zat-zat
makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan
tanaman. Penyebaran tanaman Untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji atau
melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai
kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan
rimpang. Namun persaingan yang terjadi karena factor penyebaran tanaman sangat
dipengaruhi factor-faktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen, dan
air.
BAB
III
METEDOLOGI
PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum
dilaksanakan pada hari jum’at, tanggal 24 November 2017 pukul 14:40-16:20 WIB.Bertempat di
laboratorium Terpadu Universitas PGRI
Palembang.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan
untuk praktikum yaitu; kapas, karter/ silet, botol dan lebel.
3.2.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan untuk praktikum yaitu; aquades
dan kacang hijau (Vigna radiata).
.
3.3 Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum ini yaitu:
1.
Siapkanlah bahan-bahan yang akan di
gunakan
2.
Pilih kacang hijau yang sudah di rendam
3.
Potong botol
4.
masukan kapas yang telah di basahi air
atau aquades
5.
masukan kacang kedalm botol yang sudah
di isi kapas basah dengan perbandingan 1:3:5
6.
siram sebanyak nya kemedia yang
digunakan
7.
Amati selama satu minggu dengan jarak 2
atau 3 hari sekali
4.2
Pembahasan
Pengamatan dilakukan
dengan mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala yaitu 3 hari sekali. Data
yang didapat dicatat dan disusun berdasarkan hari atau tanggal pengamatannya
hingga waktu panen tiba yaitu setelah sekitar satu bulan. Pada saat panen
dilakukan pengukuran faktor fisik akhir
seperti yang dilakukan di awal. tinggi batang kacang hijau pencobaan 1A,
ulangan 1,2 dan 3 masing masing 0,7 cm. Pencobaan 2A dengan ulangan 1 dan 2
yaitu 0,7 cm, dan ulangan 3 yaitu 0,3 cm. pencobaan 2B dengan ada yang satu
tidak tumbuh dan ulanag 1 yaitu 0,7 cm dan ulangan 3 dengan 0,5 cm. pencobaan
3A ulanagan 1 dan 2 yaitu 1 cm dan 2 cm.
Pencobaan 3B dengan ulangan 1 yaitu 2
cm, dan ulangan 2 dan 3 yaitu 1 cm. pada pencobaan 3C, hanya satu ulangan yang
tumbuh batang yaitu ulangan 2 yaitu 1,5 cm, pencobaan 3D yaitu ulanagn 2 dan 3
yang tumbuh yaitu 0,7 cm. dan Pencobaan 3E, dengan ulangan 1 yang tumbuh 0,3
cm. ulangan 2 yaitu 1cm, dan ulanagan 3 dengan ukuran 0,3 cm. dan
tidak ada tumbuh daun.
pada penagamatan
kedua pencobaan 1A, ulangan 1 yaitu 1 cm, ulangan 2 dan 3 yaitu
1,5 cm, jumlah daun yaitu 2 helai.
dengan warna hijau. pada pencobaan 2A tinggi batang ulangan 2 dan 3 sama yaitu 1 cm, dan ulangan
3 yaitu 4 cm dengan daun 2 helai pada ulanagan 1 yang berwarna hijau. Pada pencobaan 2B tinggi batang ulangan 1 dengan tinggi batang yaitu 2,5 cm dan ulangan 3 yaitu 0,9 cm tidak
ada daun. pada pencobaan 2C ulanag 1 tinggi batang yaitu 1,5 cm, ualanag 2 yaitu 1 cm, dan ulanag 3 yaitu 2,5 cm dan
tidak ada daun. pada pencobaan 3A, dengan ulangan 1 yaitu 3 cm , dan memiliki 2
helai daun dengan warna hijau, ulanagan 2 yaitu 2,5 cm , dan ulangan 3 yaitu
0,5 cm. Pencobaan 3B dengan ulangan 1 yaitu 4 cm, ulangan 2 yaitu 1,5 cm dan
ulanagn 3 yaitu 2 cm, tidak ada daun. Pada pencobaan 3C dengan ulangan 1 yaitu
0,2 cm. ulangan 2 yaitu 2,5 cm, dan ulangan 3 yaitu 0,5 cm dan tidak ada daun.
pada Pencobaan 3D pada ulanag 2 dan 3
sama yaitu 1 cm dan ulangan 1 yaitu 0,1 cm dan tidak ada daun. Pencobaan 3E
dengan tinggi batang ulangan 1 dan 3
sama yaitu 0,5 cm. dan ulangan 2 yaitu 1,5 cm dan tidak ada daun.
pada
penagamatan Ketiga pencobaan 1A, ulangan 1 yaitu 3,5 cm, ulangan 2 yaitu 2.,5
dan ulangan 3 yaitu 5,5 cm, jumlah daun yaitu 2 helai pada ulanag 1 dan
3. dengan warna hijau. pada pencobaan 2A
tinggi batang ulangan 2 dan 3 sama
yaitu 1,2 cm, dan ulangan 1 yaitu 5,5 cm dengan daun 2 helai pada ulanagan 1 yang
berwarna hijau. Pada pencobaan 2B tinggi
batang ulangan 1 dengan tinggi batang
yaitu 3 cm dan ulangan 3 yaitu
1,5 cm tidak ada daun. pada pencobaan 2C ulanag 1 tinggi batang yaitu 4 cm, ualanag
2 yaitu 1,5 cm, dan ulanag 3 yaitu 3 cm
dan tidak ada daun. pada pencobaan 3A, dengan ulangan 1 yaitu 3,2 cm , dan
memiliki 2 helai daun dengan warna hijau, ulanagan 2 yaitu 3 cm , dan ulangan 3
yaitu 5 cm. Pencobaan 3B dengan ulangan 1 yaitu 2,7cm, ulangan 2 yaitu 2,5 cm dan ulanagn 3 yaitu 3 cm, tidak ada
daun. Pada pencobaan 3C dengan ulangan 1 yaitu 0,7 cm. ulangan 2 yaitu 3,5 cm, dan ulangan 3
yaitu 0,5 cm dan tidak ada daun. pada Pencobaan 3D pada ulanag 2 dan 3 sama yaitu 1,2 cm dan
ulangan 1 yaitu 0.7 cm dan tidak ada daun. Pencobaan 3E dengan tinggi batang ulangan 1 dan 3 sama yaitu 0,7 cm. dan
ulangan 2 yaitu 1,7 cm dan tidak ada
daun.
pada penagamatan
keempat pencobaan 1A, ulangan 1 yaitu
5,5 cm, ulangan 2 yaitu 4cm dan ualanagn 3 yaitu 10 cm, jumlah daun yaitu 2 helai. dengan warna
hijau. pada pencobaan 2A tinggi batang ulangan 1 yaitu 7,6 cm , ulangan 2 yaitu
4,5 cm dan ulangan 3 yaitu dan jumlah daun yaitu masing masing 2 helai dengan
warna hijau. Pencobaan 2B dengan ulangan 1 yaitu 4,5 cm dan ulangan 3 yaitu
2,7 masing masing helai daun yaitu 2
helai dengan warna hijau. pencobaan 2C ulangan 1 yaitu 5 cm, ulangan 2 yaitu
3,4 cm, dan ulangan 3 yaitu 2 cm dengan tidak ada daun. Pencobaan 3A dengan
ulangan 1 dan 2 yang sma yaitu 4 cm. dan ulangan 3 yaitu 8 cm dan masing-masing
helai daun pada ulnagan 2 dan 3 dengan warna hijau. pencobaan 3B dengan ulangan 1 dan dua yang
sama yaitu 3 cm. dan ulanagan 3 yaitu 6 cm. dengan masing-masing 2 helai dauin pada ulangan 2 dan 3 dengan
warna hijau. pencobaan 3C ulanagan 1 yaitu 1,5 cm. ulangan 2 dengan ukuran
batang 2 cm, dan ulangan 3 yaitu 0,7 cm dengan 2 helai daun yang berwarna
hijau. pencobaan 3D dengan ulangan 1 yaitu 1 cm, ulangan 2 yaitu 2cm dan
ulangan 3 yaitu 1,7 cm jumlah daun 2 helai dan warna hijau. dan Pencobaan 3E ulangan 1 yaitu 1 cm, ulangan 2 yaitu 1,5 cm dan ulangan 3
yaitu 2 cm dengan 2helai daun yang warna daun hijau.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi kompetisi antar tumbuhan dapat berasal dari faktor internal dan
eksternal. Faktor internalnya yaitu kemampuan biji atau tumbuhan tersebut
untuk bertahan hidup berdampingan dengan
tumbuhan lain.Faktor eksternal yang menjadi perebutan antar tanaman diantaranya
intensitas cahaya, unsure hara, suhu, air, oksigen , dan karbondioksida. Selain
faktor yang menjadi perebutan, ada juga faktor yang mempengaruhi keadaan
fisiologis pertumbuhan tanaman diantaranya kondisi tanah, kelembaban tanah, udara,angin,
dan gangguan dari spesies-spesies tertentu di suatu habitat juga dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan
fisiologis tumbuhan.
Biji suatu tanaman
dapat mengakhiri masa dormansinya apabila terdapat faktor-faktor yang mengukung
pemutusan dormansi. Beberapa hal yang berpengaruh terhadap pemutusan dormansi
biji adalah struktur biji itu sendiri, sedangkan faktor lingkungan yang
berpengaruh adalah kadar air, kelembaban tanah, suhu tanah, intensitas cahaya
dan faktor fisik lainnya.
Faktor-faktor pada tabel diatas adalah faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tanaman biji jagung dan biji kacang hijau pada
praktikum ini. Faktor-faktor tersebut diukur agar mengetahui keadaan
makroklimat pada awal penanaman dan akhir penanaman. Dan selama pengamatan
pertumbuhan tanaman, yang lebih dilihat adalah persaingan yang terjadi antara
biji yang ditanam dalam 1 dalam botol ysng di buka baik persaingan
intaraspesifik ataupun persaing interspesifiknya.
Tinggi tanaman
kacang hijau lebih Persaingan diantara tumbuhan ini secara tidak langsung
terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem ini akan
bersaing untuk mendapatkan air dan bahan makanan. Dan karena mereka tidak
bergerak, maka ruang menjadi faktor penting, di atas tanah, tumbuhan yang lebih
tinggi menguasai sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan
memodifikasi suhu, kelembaban serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael,
1994).
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang dilakukan terhadap tanaman
jagung dan kacang hijau selama kurang lebih 21 hari maka dapat disimpulkan
bahwa :
a.
Pertumbuhan tanaman kacang hijau lebih cepat daripada tanaman jagung
maka kacang hijau adalah pemenang dalam kompetisi intraspesifik dan
interspesifik.
b.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan intraspesifik dan
interspesifik adalah kepadatan atau jarak tanaman, luas lahan tanam, jenis
tanaman, dan waktu lamanya tanaman hidup.
c.
Semakin rapat jarak suatu tanaman maka pertumbuhannya akan semakin
terhambat karena persaingan mendapatkan sumber daya atau unsur hara dari tanah
semakin ketat.
d.
Cepat atau lambatnya perkecambahan pada tanaman juga berpengaruh
terhadap menangnya suatu tanaman dalam berkompetisi.m
e.
Terjadinya kompetisi antar tanaman dapat menyebabkan tanaman mati
5.2 Saran
Pada saat pelaksanaan praktikum
bahan dan alat yang digunakan yang dibutuhkan sebaiknya dipersiapkan terlebih
dahulu, agar dapat membantu memperlancar jalannya praktikum sehingga asisten
dan praktikan dapat melaksanakan tugasnya masing – masing dengan lancar
DAFTAR PUSTAKA
Irwan, Z.D.. 2007. Prinsip-Prinsip
Ekologi. Jakarta: Bumi Aksara.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan.
Jakarta. Bumi Aksara:
Michael.
1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan
Lapangan dan Laboratorium. Jakarta.UI
Press .
Naughhton.1973. Ekologi Umum
edisi Ke 2. Yogyakarta. UGM Press
Odum,
E.P. 1971. Dasar-dasar Ekologi
(diterjemahkanTjahjono, S. dan Srigandono, B) Yogyakarta: Penerbit Universitas
Gajah Mada.
Setiadi,
Dedi, Muhadiono, Ayip Yusron.1989. Penuntun
Praktikum Ekologi. Bogor. PAU Ilmu Hayat IPB:
Wirakusumah,
S. 1003. Dasar-dasar Ekologi bagi
populasi dan Komunitas. Jakarta. UI-Press:
No comments:
Post a Comment