Saturday, October 19, 2019

EKOSISTEM AIR TAWAR





BAB III
EKOSISTEM AIR TAWAR
A. Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Perairan merupakan suatu ekosistem yang memiliki peran dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Kehidupan di dalamnya sangat beragam. Mulai dari organisme mikroskopik sampai ukuran yang makro dapat terlihat langsung oleh mata tanpa bantuan alat. Salah satu organisme yang terdapat di perairan adalah plankton. Plankton merupakan organisme mikroskopis yang berada di permukaan perairan dan berfungsi sebagai produsen ekosistem perairan. Sebagai biota mikroskopis perairan, plankton sangat berperan sebagai produsen primer dan sekunder (Nybakken, 2012).
Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah plankton menyerupai tumbuhan yang bebas melayang dan hanyut dalam perairan serta mampu berfotosintesis. Zooplankton adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani (Gusrina, 2008). Fitoplankton merupakan pensuplai utama oksigen terlarut di perairan, sedangkan zooplankton meskipun sebagai pemanfaat langsung fitoplankton, merupakan produsen sekunder perairan (Nybakken, 2012).
Plankton merupakan makanan alami larva organisme perairan. Keragaman spesies plankton di dalam ekosistem perairan sering digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui produktivitas primer perairan dan kondisi ekosistem perairan tersebut. Kedua hal tersebut memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Plankton menjadi salah satu bioindikator untuk mengetahui produktivitas ekosistem perairan karena memiliki peran sebagai produsen. Produktivitas primer adalah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya energi dari senyawa-senyawa anorganik. Sedangkan ekosistem dengan keragaman rendah adalah tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh tekanan dari luar dibandingkan dengan ekosistem yang memiliki keragaman tinggi. Kondisi suatu ekosistem tidak stabil dan rentan yang terjadi dapat mempengaruhi produktivitas primer perairan tersebut sehingga berdampak pada jaring makanan ekosistem.
Berdasarkan penjelasan di atas, plankton memiliki peran yang sangat penting di dalam ekosistem perairan. Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum untuk mempelajari plankton dengan faktor-faktor ekologisnya.
1.2 Tujuan Praktikum
Praktikum kali ini bertujuan untuk:
a.       Mengetahui keragaman plankton yang ditemukan dalam praktikum diperairan  sungai musi.
b.      Mengetahui jenis-jenis plankton yang ditemukan dalam praktikum diperairan  sungai musi.
c.       Mengetahui hubungan antara keragaman plankton dengan kualitas perairan.
d.      Mengetahui jenis-jenis Bentos  yang ditemukan dalam praktikum diperairan  sungai musi.


B. Tinjuan  Pustaka
2.1 Plankton
Plankton mempunyai masa aktif yang mrip dengan organisme tingkat tinggi dimana untuk phytoplankton akan terdapat dalam jumlah yang besar pada siang  hari dan zooplankton pada malam hari.  Organisme Bentos meliputi jenis-jenis dari kelompok protozoa,  sponge, coelenterata, rotifera, nematoda, bryozoa, decapoda, ostracoda, cladocera, copedoda, pelecypoda, gastropoda, insekta dan lintah. Zonneveld, Huisman dan Boon dalam Odum (1971) mengemukakan bahwa kualitas air mempengaruhi seluruh komunitas perairan (bakteri, tanaman, ikan, zooplankton dan sebagainya).
Istilah plankton pertama kali digunakan oleh Hensen dalam Odum (1971), berasal dari bahasa Yunani yaitu Planktos yang artinya mengembara atau berkeliaran. Menurut Boney dalam Krebs (1985), plankton tersusun atas jasad-jasad hewani mikroskopis (phytoplankton) dan jasad-jasad hewani (zooplankton) yang terdapat di laut maupun air tawar, hidup bebas terapung dan pergerakannya bersifat pasif tergantung adanya arus angin.
Zonneveld, Huisman dan Boon dalam Odum (1971) mengemukakan bahwa kualitas air mempengaruhi seluruh komunitas perairan (bakteri, tanaman, ikan, zooplankton dan sebagainya).
Organisme plankton pada umumnya diambil dengan cara pemekatan air contoh. Pemekatan dimaksuddkan agar organisme-organisme plankton yang tertangkap benar-benar mewakili komunitas plankton di air. Teknik pemekatan air contoh dapat dilakukan dengan berbagai cara menurut Dahuri (1997) yaitu:
a.    Penyaringan (filtration method) dengan plankton net
b.    Pengendapan air contoh (sedimentation method)
c.    Centrifuge
Menurut Fachrul (2007) ukuran Benthos diantaranya adalah makrobenthos yaitu 1.0 mm – 5.0 mm; mesobenthos yaitu 0.1 – 1.0 mm, dan mikrobenthos yaitu < 0.1 mm. Sedangkan menurut batas biologis digolongkan menjadi fitobenthos (golongan tumbuhan) dan zoobenthos (golongan hewan). Zoobenthos yang hidup di permukaan dasar perairan digolongkan menjadi epifauna, sedangkan zoobenthos yang hidup di dalam dasar perairan disebut infauna.
Keberadaan hewan benthos dipengaruhi oleh kondisi fisik (substrat, kekeruhan, suhu, kedalaman, arus, dan suhu), disamping juga dipengaruhi oleh faktor kimian(pH, oksigen, dan bahan-bahan toksik), dan faktor biologi (predator dan kompetitor).
Untuk mendapatkan sampel bentos diperlukan alat saring (Sieve Set US 30) yang ukuran mata saringnya (mesh size) disesuaikan dengan ukuran organisme yang akan ditangkap. Metode pengambilan sampel benthos menurut Suin (2002) dapat dilakukan dengan:
a.     Metode kolonisasi (dengan container sampler atau core sampler).
b.    Metode perangkap (dengan trap sampler)
c.    Metode tangkap segera (immediate sampler dengan surbur, pipa paralon, Eckman Grab, atau Petersen Grab).
Menurut Sachlan (1980) plankron adalah jasad – jasad renik yang melayang–layang di air, yang pergerakannya selalu mengikuti arus. Plankton ini dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu fitoplankton dan zooplankton.
Siagaan (2001) menjelaskan bahwa Phytoplankton merupakaan tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari beberapa kelas yang sangat tergantung pada cahaya matahari terdapat pada permukaan air sampai kedalaman penetrasi cahaya matahari. Dan Phytoplankton ini merupakan produsen utama, zat-zat organik yang komplek dari bahan-bahan organik dan dari bahan anorganik yang sederhana melalui proses fotosintesis.
Odum (1993) Phytoplankton merupakan makanan bagi zooplankton dan hewan lainnya, sehinga dalam rantai makanan yang paling pokok tersedia secara alami. Phytoplankton memanfaatkan garam – garam organic, kabondioksida, air dan cahaya matahari untuk memproduksi makanannya, kemudian zooplankton atau hewan – hewan lainnya memakan phytoplankton, sehingga dalam rantai makanan phytoplankton merupakan makanan yang paling pokok tersedia secara alami.
Arinardi (1976) zooplankton berperan sebagai konsumen primer merupakan penghubung rantai makanan antara phytoplankton dan konsumen lainnya. Atau dapat dikatakan phytoplankton merupakan makanan sebagian besar organisme akuatik seperti ikan, udang, moluska dan sebagainya. Kelimpahan dan produktifitas plankton sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan. Kondisi lingkungan yang baik akan mendukung kelimpahan dan produktifitas primer plankton.
Berdasarkan Fungsi  
       Plankton digolongkan menjadi empat golongan utama, yaitu:
a. Fitoplankton
Fitoplankton atau plankton nabati adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di perairan. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 µm – 200 µm (1 µm = 0,001 mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal.
Fitoplankton mempunyai fungsi penting di perairan karena bersifat autotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organik makanannya. Selain itu, fitoplankton juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik karena mengandung klorofil dan karena kemampuannya ini fitoplankton disebut sebagai primer producer (Stewart, 1986).
b. Zooplankton
Zooplankton atau plankton hewani adalah hewan yang hidupnya mengapung atau melayang dalam perairan. Kemampuan berenangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, artinya tidak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan anorganik. Jadi zooplankton lebih berperan sebagai konsumen (consumer) bahan organik (D. B, Mukayat, 1994).
Zooplankton ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yaitu ketika masih berupa telur dan larva (D. B, Mukayat, 1994).
c.  Bakterioplankton
Bakterioplankton merupakan bakteri yang hidup sebagai plankton. Bakterioplankton mempunyai ciri yang khas, ukurannya sangat halus (umumnya < 1 µm), tidak mempunyai inti sel dan umumnya tidak mempunyai klorofil yang dapat berfotosintesis (Dianthani, 2003). Fungsi utamanya dalam ekosistem laut adalah sebagai pengurai (decomposer). Semua biota laut yang mati akan diuraikan oleh bakteri sehingga akan menghasilkan hara seperti fosfat, nitrat, silikat, dan sebagainya. Hara ini kemudian akan didaurulangkan dan dimanfaatkan lagi oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis (Dianthani, 2003).
d. Virioplankton
Virioplankton adalah virus yang hidup sebagai plankton. Virus ini ukurannya sangat kecil (kurang dari 0,2 μm) dan menjadikan biota lainnya, terutama bakterioplankton dan fitoplankton, sebagai inang (host). Tanpa inangnya virus ini tak menunjukkan kegiatan hayati. Virioplankton dapat memecahkan dan mematikan sel-sel inangnya (Dianthani, 2003).
Berdasarkan daur hidupnya plankton dibagi menjadi :
1.      Holoplankton
Dalam kelompok ini termasuk plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Kebanyakan zooplankton termasuk dalam golongan ini. Contohnya : kokepod, amfipod, salpa, kaetognat. Fitoplankton termasuk juga umumnya adalah holoplankton (Anonim1, 2010).
2.      Meroplankton
Plankton dari golongan ini berperan sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yaitu pada tahap sebagai telur dan larva saja. Beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton, yaitu hewan yang dapat aktif berenang bebas, atau sebagai bentos yang hidup menetap atau melekat di dasar laut. Oleh sebab itu, meroplankton disebut sebagai plankton sementara.
Meroplankton ini sangat banyak ragamnya dan umumnya mempunyai bentuk yang sangat berbeda dari bentuk dewasanya. Larva crustacea seperti udang dan kepiting mempunyai perkembangan larva yang bertingkat-tingkat dengan bentuk yang sedikitpun tidak menunjukkan persamaan dengan bentuk yang dewasa (Anonim1, 2010).
3.      Tikoplankton
Tikoplankton sebenarnya bukan plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup di dasar laut sebagai bentos. Namun karena gerak air menyebabkan ia terlepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton (Anonim1, 2010).



2.2 Bentos
Benthos adalah organisme (nabati/fitobenthos atau hewani/ zoobenthos) yang tinggal di dalam dan atau di atas sedimen di dasar suatu perairan.
Benthos mencakup semua organisme yang hidup di dasr atau dalam dasr perairan. Menurut batasan biologis digolongkan menjadi fitobentos (golongan tumbuhan) dan zoobentos (golongan hewan). Zoobentos yang hidup di permukaan dasar perairan digolongkan menjadi epifauna, sedangkan zoobentos yang hidup didasar perairan disebut infauna (Dahuri, 1997).
Hehanusa (2001) Bentos adalah organisme yang hidup di permukaan atau di dalam sedimen dasar di suatu badan air. Hewan-hewan benthos dalam memanfaatkan detritus dengan cara suspension feeder yakni dengan cara menyaring partikel-partikel yang masih melayang-layang di air yang ada di sekitarnya dan dengan deposit feeders yakni mengumpulkan detritus yang telah menetap di dasar. Plankton adalah organisme yang hidup di permukaan di suatu badan air.
Benthos merupakan salah satu organisme yang terpenting dalam Ekosistem perairan sehubung dengan peranannya sebagai organisme kecil dalam jaring-jaring makanan. Selain itu tingkat keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat di gunakan sebagai indikator pencemaran. (Pratiwi. Dkk. 2004).
Organisme benthos ini meliputi jenis-jenis dari kelompok Protozoa, Sponge, Coelenterate, Rotifera, Nematode, Bryozoa, Decapoda, Ostracoda, Cladocera, Cpopoda, Pelecypoda, Gastropoda, Insekta, dan Lain-lain. Keberadaan hewan ini di pengaruhi oleh kondisi fisik, di samping itu juga di pengaruhi oleh faktor Kimia dan faktor Biologi. (Haryani. S. 2001).
Menurut Fachrul (2007) ukuran benthos diataranya adalah makrobentos  yaitu 1,0 mm – 5,0 mm, mesobentos yaitu 0,1 – 1,0 mm dan mikrobentos yaitu > 0,1 mm.




C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan tempat
Praktikum ekolgi perairan di alaksanakan pada hari minggu 12 Novemebr 2017. Betempat di perairan sungai musi dari Ampera titik awal hingga ke palau kemaro sumatra selatan dan di lanjutakn di Laboratorium terpadu Universitas PGRI Palembang.
2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ekologi perairan menggunakan alat dan bahan di anataranya : exman Grap, Secchi Disk, pipet tetes, Botol sampel, planton net, GPS, ember, alkohol, cawan petri, kertas saring,open, pH meter, Botol pastik, sampel air, saringan sedimen, Neraca analitik, Mikroskop, dan tali.

D. Hasil dan Pembahasan
1.    Hasil
Lokasi I : 48 UTM                     x :0474399                              Y:  9669709
ketinggian air 2 m
secchi disk 17 cm
PH 7,8
Lokasih II :  48 UTM    x: 0478501                  Y: 9669781
ketinggian 8 m
secchi disk 15 cm
pH 7.8
Berat awal : 0,6 gr
Berat ahir : 0,5 gr
TTS        : 0,6 gr – 0,5 gr / 50
: 0,1 gr/ 50 ml x 20x20
: 2 / 1000
: 0,002


2.    Pembahasan
Dari pengambilan sampel di sungai musi banyak sekali Planton dan bentos, praktikum kali ini terlambat mengamati sehingga yang di amati sampel planton itu mati dan membusuk, dan ada beberapa dari planton yang dapat, dan yang dapat dari bentos terdapat sisik ikan dan sisa sia daun yang telah mati, jadai praktikum yang di amati di praktikum ini platon kami tidak bsia melihat dengan nyata karena tidak palnton dan bentos yang diamati rusak sehingga yang di mati tinggal sisa sisa dari planton dan bentos.
Pengambilan sampel dapat dilakukan baik secara vertikal maupun horisontal. Pengambilan sampel secara vertikal sering mengikuti petunjuk kedalaman standar oseanografi (Michael, 1995). Peralatan sampling yang digunakan untuk pengambilan sampel pada umumnya berbeda-beda menurut ukuran plankton. Pada pengambilan sampel fitoplankton dan nanoplankton dapat dilakukan dengan cara:
1.  Menggunakan jaring plankton yang memilki diameter mulut sebesar 30 cm dan mata jaring 64 mm.
2.  Pengambilan sampel dengan anung Van Dorn atau Niskin, ditampung dalam botol sampel (250 ml) diberi bahan pengawet Formalin atau larutan Lugol.
3.  Pengambilan sampel dengan tabung Van Dorn atau Niskin, selanjutnya dilakukan penyaringan sebanyak lebih dari 21 dengan jaring plankton berdiameter 15 cm dengan mata jaring 20 mm (Michael, 1995).
Pengambilan zooplankton pada umumnya dilakukan dengan menggunakan jaring plankton, meskipun dapat dilakukan dengan cara lain, misalnya melakukan penyedotan air dengan pompa, kemudian air disaring dengan jaring tertentu (102 mm, 200 mm atau 300 mm). Cara ini cukup jarang dilakukan karena memerlukan peralatan khusus dan wahana praktikum yang dilengkapi peralatan listrik agar dapat melakukan penyedotan air dan dalam pengoperasiannya hanya terbatas pada kedalaman permukaan (Michael, 1995).
Pemberian bahan pengawet pada sampel dimaksudkan agar sampel-sampel yang tidak dapat diamati segera setelah pengambilan sampel, tidak mengalami kerusakan. Jenis-jenis bahan pengawet yang umum digunakan di lapangan adalah Formalin, larutan Lugol, dan larutan Bouin. Sedangkan penggunaan alkohol untuk pengawet plankton jarang dilakukan. Pemberian bahan pengawet dilakukan dengan segera setelah sampel ditampung dalam botol sampel agar plankton tidak mengalami kerusakan akibat terjadi proses pembusukan (Michael, 1995).
Terdapat dua metode sampling plankton yang dikenal sesuai dengan tujuannya dibagi menjadi:
1.  Kualitatif, yaitu bertujuan untuk menyesuaikan jenis-jenis plankton.
2. Kuantitatif, yaitu bertujuan untuk mengetahui kelimpahan plankton Hariyanto, 2008).
Metode sampling kuantitatif pada umumnya dilakukan untuk mengetahui kepadatan plankton per satuan volume. Sampling plankton secara kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan jaring plankton (plankton net). Penggunaan jaring plankton, selain sangat praktis, juga memperoleh sampel yang cukup banyak. Jaring plankton umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran dengan panjang jaring sekitar 4-5 kali diameter mulutnya.


E. Kesimpulan
Dari hasil praktikm dapat di simpulkan bahawa :
1.      Planton yang di amti hanya ada sisa sisa dari planton dan bentos yang telah membusuk
2.      terdapat sisik ikan dan daunan yang sadah teruarai
3.      Pemberian bahan pengawet pada sampel dimaksudkan agar sampel-sampel yang tidak dapat diamati segera setelah pengambilan sampel, tidak mengalami kerusakan




DAFTAR PUSTAKA

Barus, T.A. 2002. Pengantar Limmnologi. Medan: Departemen Pendidikan Nasional.

Dianthani, D. 2003. Identifikasi Jenis Plankton di Perairan Muara Badak,Kalimantan Timur. (http://www.geocities.com). Diakses 20 November 2017.

Gusrina, 2008. Budidaya Ikan Jilid I. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Klaten: PT. Macaan Jaya Cemerlang.

Hutagalung, H. P. 1997. Metode Analisis Air Laut Sedimen dan Biota. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Mentari, D. 2012. Sistematika Tumbuhan Rendah. (http:/mentarib1ru.blogspot.com/2012/sistematika_tumbuhan_rendah_5035.html). Diakses pada tanggal 4 Mei 2013.

Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Mukayat, D.B. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

Nyibakken. 2012. Pengertian dan Definisi Plankton. (http://blogger.com/pengertian-dan-definisi-plankton//). Diakses 20 November 2017.

Odum, E. P., 1997. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: UGM Press.

Rahma, Y. F. 2006. Keanekaragaman dan Kelimpahan Makrozoobentos di Hutan Mangrove Hasil Rehabilitasi Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali. Surakarta: UNS Surakarta.

Stewart, M.E., dkk. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Jakarta : UI-press.

Umar, N. A. 2002. Hubungan antara Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton (Kopeoda) dengan Larva Kepiting di Peraian Teluk Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Wickstead, J.H. 1965. An Introduction to the Study of Tropical Plankton Hutchinson.

Yazwar. 2008. Keanaekargaman Plankton dan Keterkaitannya dengan Kualitas Air di Parapat Danau Toba. Sumatera Utara : Universitas Sumatera Utara.
                      



LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
EKOSISTEM SUNGAI MUSI


Disusun Oleh :
Nama               : Syahirul Alim
NIM                  : 2017411019.P
Dosen               : Dr. Syaiful Edddy, M.Si









PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG 2017


No comments:

Post a Comment

laporan praktikum paku

BAB I PENDAHULUANA A.Latar Belakang Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu golongantumbuhan yang ...