BAB
III
EKOSISTEM AIR TAWAR
A.
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Perairan merupakan suatu ekosistem yang
memiliki peran dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Kehidupan
di dalamnya sangat beragam. Mulai dari organisme mikroskopik sampai ukuran yang
makro dapat terlihat langsung oleh mata tanpa bantuan alat. Salah satu
organisme yang terdapat di perairan adalah plankton. Plankton merupakan
organisme mikroskopis yang berada di permukaan perairan dan berfungsi sebagai
produsen ekosistem perairan. Sebagai biota mikroskopis perairan, plankton
sangat berperan sebagai produsen primer dan sekunder (Nybakken, 2012).
Plankton terdiri dari fitoplankton dan
zooplankton. Fitoplankton adalah plankton menyerupai tumbuhan yang bebas
melayang dan hanyut dalam perairan serta mampu berfotosintesis. Zooplankton
adalah organisme renik yang hidup melayang-layang mengikuti pergerakan air yang
berasal dari jasad hewani (Gusrina, 2008). Fitoplankton merupakan pensuplai
utama oksigen terlarut di perairan, sedangkan zooplankton meskipun sebagai
pemanfaat langsung fitoplankton, merupakan produsen sekunder perairan
(Nybakken, 2012).
Plankton merupakan makanan alami larva
organisme perairan. Keragaman
spesies plankton di dalam ekosistem perairan sering digunakan sebagai tolak
ukur untuk mengetahui produktivitas primer perairan dan kondisi ekosistem
perairan tersebut. Kedua hal tersebut memiliki hubungan yang saling
mempengaruhi. Plankton menjadi salah satu bioindikator untuk mengetahui
produktivitas ekosistem perairan karena memiliki peran sebagai produsen.
Produktivitas primer adalah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya
energi dari senyawa-senyawa anorganik. Sedangkan ekosistem dengan keragaman
rendah adalah tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh tekanan dari luar
dibandingkan dengan ekosistem yang memiliki keragaman tinggi. Kondisi suatu
ekosistem tidak stabil dan rentan yang terjadi dapat mempengaruhi produktivitas
primer perairan tersebut sehingga berdampak pada jaring makanan ekosistem.
Berdasarkan penjelasan di atas, plankton
memiliki peran yang sangat penting di dalam ekosistem perairan. Oleh karena
itu, perlu dilakukan praktikum untuk mempelajari plankton dengan faktor-faktor
ekologisnya.
1.2
Tujuan Praktikum
Praktikum
kali ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui
keragaman plankton yang ditemukan dalam praktikum diperairan sungai musi.
b. Mengetahui
jenis-jenis plankton yang ditemukan dalam praktikum diperairan sungai
musi.
c. Mengetahui
hubungan antara keragaman plankton dengan kualitas perairan.
d. Mengetahui
jenis-jenis Bentos yang ditemukan dalam praktikum diperairan sungai
musi.
B.
Tinjuan Pustaka
2.1
Plankton
Plankton mempunyai masa aktif yang mrip
dengan organisme tingkat tinggi dimana untuk phytoplankton akan terdapat dalam
jumlah yang besar pada siang hari dan
zooplankton pada malam hari. Organisme
Bentos meliputi jenis-jenis dari kelompok protozoa, sponge, coelenterata, rotifera, nematoda,
bryozoa, decapoda, ostracoda, cladocera, copedoda, pelecypoda, gastropoda,
insekta dan lintah. Zonneveld,
Huisman dan Boon dalam Odum (1971) mengemukakan bahwa kualitas air mempengaruhi
seluruh komunitas perairan (bakteri, tanaman, ikan, zooplankton dan
sebagainya).
Istilah plankton pertama kali digunakan
oleh Hensen dalam Odum (1971), berasal dari bahasa Yunani yaitu Planktos yang
artinya mengembara atau berkeliaran. Menurut Boney dalam Krebs (1985), plankton
tersusun atas jasad-jasad hewani mikroskopis (phytoplankton) dan jasad-jasad
hewani (zooplankton) yang terdapat di laut maupun air tawar, hidup bebas terapung
dan pergerakannya bersifat pasif tergantung adanya arus angin.
Zonneveld, Huisman dan Boon dalam Odum
(1971) mengemukakan bahwa kualitas air mempengaruhi seluruh komunitas perairan
(bakteri, tanaman, ikan, zooplankton dan sebagainya).
Organisme plankton pada umumnya diambil
dengan cara pemekatan air contoh. Pemekatan dimaksuddkan agar
organisme-organisme plankton yang tertangkap benar-benar mewakili komunitas
plankton di air. Teknik pemekatan air contoh dapat dilakukan dengan berbagai
cara menurut Dahuri (1997) yaitu:
a. Penyaringan
(filtration method) dengan plankton net
b. Pengendapan
air contoh (sedimentation method)
c. Centrifuge
Menurut Fachrul (2007) ukuran Benthos
diantaranya adalah makrobenthos yaitu 1.0 mm – 5.0 mm; mesobenthos yaitu 0.1 –
1.0 mm, dan mikrobenthos yaitu < 0.1 mm. Sedangkan menurut batas biologis
digolongkan menjadi fitobenthos (golongan tumbuhan) dan zoobenthos (golongan
hewan). Zoobenthos yang hidup di permukaan dasar perairan digolongkan menjadi
epifauna, sedangkan zoobenthos yang hidup di dalam dasar perairan disebut
infauna.
Keberadaan hewan benthos dipengaruhi
oleh kondisi fisik (substrat, kekeruhan, suhu, kedalaman, arus, dan suhu),
disamping juga dipengaruhi oleh faktor kimian(pH, oksigen, dan bahan-bahan
toksik), dan faktor biologi (predator dan kompetitor).
Untuk mendapatkan sampel bentos
diperlukan alat saring (Sieve Set US 30) yang ukuran mata saringnya (mesh size)
disesuaikan dengan ukuran organisme yang akan ditangkap. Metode pengambilan
sampel benthos menurut Suin (2002) dapat dilakukan dengan:
a. Metode
kolonisasi (dengan container sampler atau core sampler).
b. Metode
perangkap (dengan trap sampler)
c. Metode
tangkap segera (immediate sampler dengan surbur, pipa paralon, Eckman Grab,
atau Petersen Grab).
Menurut Sachlan (1980) plankron adalah
jasad – jasad renik yang melayang–layang di air, yang pergerakannya selalu
mengikuti arus. Plankton ini dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu
fitoplankton dan zooplankton.
Siagaan (2001) menjelaskan bahwa
Phytoplankton merupakaan tumbuhan air yang sangat kecil yang terdiri dari
beberapa kelas yang sangat tergantung pada cahaya matahari terdapat pada
permukaan air sampai kedalaman penetrasi cahaya matahari. Dan Phytoplankton ini
merupakan produsen utama, zat-zat organik yang komplek dari bahan-bahan organik
dan dari bahan anorganik yang sederhana melalui proses fotosintesis.
Odum (1993) Phytoplankton merupakan
makanan bagi zooplankton dan hewan lainnya, sehinga dalam rantai makanan yang
paling pokok tersedia secara alami. Phytoplankton memanfaatkan garam – garam
organic, kabondioksida, air dan cahaya matahari untuk memproduksi makanannya,
kemudian zooplankton atau hewan – hewan lainnya memakan phytoplankton, sehingga
dalam rantai makanan phytoplankton merupakan makanan yang paling pokok tersedia
secara alami.
Arinardi (1976) zooplankton berperan
sebagai konsumen primer merupakan penghubung rantai makanan antara
phytoplankton dan konsumen lainnya. Atau dapat dikatakan phytoplankton
merupakan makanan sebagian besar organisme akuatik seperti ikan, udang, moluska
dan sebagainya. Kelimpahan dan produktifitas plankton sangat dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan perairan. Kondisi lingkungan yang baik akan mendukung
kelimpahan dan produktifitas primer plankton.
Berdasarkan
Fungsi
Plankton digolongkan menjadi empat
golongan utama, yaitu:
a.
Fitoplankton
Fitoplankton atau plankton nabati adalah
tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di perairan. Ukurannya sangat
kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton
berukuran 2 µm – 200 µm (1 µm = 0,001 mm). Fitoplankton umumnya berupa individu
bersel tunggal.
Fitoplankton mempunyai fungsi penting di
perairan karena bersifat autotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan
organik makanannya. Selain itu, fitoplankton juga mampu melakukan proses
fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik karena mengandung klorofil dan
karena kemampuannya ini fitoplankton disebut sebagai primer producer (Stewart,
1986).
b.
Zooplankton
Zooplankton atau plankton hewani adalah
hewan yang hidupnya mengapung atau melayang dalam perairan. Kemampuan
berenangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus
membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, artinya tidak dapat memproduksi
sendiri bahan organik dari bahan anorganik. Jadi zooplankton lebih berperan
sebagai konsumen (consumer) bahan organik (D. B, Mukayat, 1994).
Zooplankton ada pula yang dapat
melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua
hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (bentos)
menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yaitu ketika masih berupa telur
dan larva (D. B, Mukayat, 1994).
c.
Bakterioplankton
Bakterioplankton merupakan bakteri yang
hidup sebagai plankton. Bakterioplankton mempunyai ciri yang khas, ukurannya
sangat halus (umumnya < 1 µm), tidak mempunyai inti sel dan umumnya tidak
mempunyai klorofil yang dapat berfotosintesis (Dianthani, 2003). Fungsi
utamanya dalam ekosistem laut adalah sebagai pengurai
(decomposer). Semua biota laut yang mati akan
diuraikan oleh bakteri sehingga akan menghasilkan hara seperti fosfat, nitrat,
silikat, dan sebagainya. Hara ini kemudian akan didaurulangkan dan dimanfaatkan
lagi oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis (Dianthani, 2003).
d.
Virioplankton
Virioplankton adalah virus yang hidup
sebagai plankton. Virus ini ukurannya sangat kecil (kurang dari 0,2 μm) dan
menjadikan biota lainnya, terutama bakterioplankton dan fitoplankton, sebagai
inang (host). Tanpa inangnya virus ini tak menunjukkan kegiatan hayati.
Virioplankton dapat memecahkan dan mematikan sel-sel inangnya (Dianthani,
2003).
Berdasarkan
daur hidupnya plankton dibagi menjadi :
1. Holoplankton
Dalam kelompok ini termasuk plankton
yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva,
hingga dewasa. Kebanyakan zooplankton termasuk dalam golongan ini. Contohnya :
kokepod, amfipod, salpa, kaetognat. Fitoplankton termasuk juga umumnya adalah
holoplankton (Anonim1, 2010).
2. Meroplankton
Plankton dari golongan ini berperan
sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yaitu
pada tahap sebagai telur dan larva saja. Beranjak dewasa ia akan berubah
menjadi nekton, yaitu hewan yang dapat aktif berenang bebas, atau sebagai
bentos yang hidup menetap atau melekat di dasar laut. Oleh sebab itu,
meroplankton disebut sebagai plankton sementara.
Meroplankton ini sangat banyak ragamnya
dan umumnya mempunyai bentuk yang sangat berbeda dari bentuk dewasanya. Larva
crustacea seperti udang dan kepiting mempunyai perkembangan larva yang
bertingkat-tingkat dengan bentuk yang sedikitpun tidak menunjukkan persamaan
dengan bentuk yang dewasa (Anonim1, 2010).
3. Tikoplankton
Tikoplankton sebenarnya bukan plankton
yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup di dasar laut
sebagai bentos. Namun karena gerak air menyebabkan ia terlepas dari dasar dan
terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton (Anonim1, 2010).
2.2 Bentos
Benthos adalah organisme
(nabati/fitobenthos atau hewani/ zoobenthos) yang tinggal di dalam dan atau di
atas sedimen di dasar suatu perairan.
Benthos mencakup semua organisme yang
hidup di dasr atau dalam dasr perairan. Menurut batasan biologis digolongkan
menjadi fitobentos (golongan tumbuhan) dan zoobentos (golongan hewan).
Zoobentos yang hidup di permukaan dasar perairan digolongkan menjadi epifauna,
sedangkan zoobentos yang hidup didasar perairan disebut infauna (Dahuri, 1997).
Hehanusa (2001) Bentos adalah organisme
yang hidup di permukaan atau di dalam sedimen dasar di suatu badan air.
Hewan-hewan benthos dalam memanfaatkan detritus dengan cara suspension feeder
yakni dengan cara menyaring partikel-partikel yang masih melayang-layang di air
yang ada di sekitarnya dan dengan deposit feeders yakni mengumpulkan detritus
yang telah menetap di dasar. Plankton adalah organisme yang hidup di permukaan
di suatu badan air.
Benthos merupakan salah satu organisme
yang terpenting dalam Ekosistem perairan sehubung dengan peranannya sebagai
organisme kecil dalam jaring-jaring makanan. Selain itu tingkat keanekaragaman
yang terdapat di lingkungan perairan dapat di gunakan sebagai indikator
pencemaran. (Pratiwi. Dkk. 2004).
Organisme benthos ini meliputi
jenis-jenis dari kelompok Protozoa, Sponge, Coelenterate, Rotifera, Nematode,
Bryozoa, Decapoda, Ostracoda, Cladocera, Cpopoda, Pelecypoda, Gastropoda,
Insekta, dan Lain-lain. Keberadaan hewan ini di pengaruhi oleh kondisi fisik,
di samping itu juga di pengaruhi oleh faktor Kimia dan faktor Biologi.
(Haryani. S. 2001).
Menurut Fachrul (2007) ukuran benthos
diataranya adalah makrobentos yaitu 1,0
mm – 5,0 mm, mesobentos yaitu 0,1 – 1,0 mm dan mikrobentos yaitu > 0,1 mm.
C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan tempat
Praktikum
ekolgi perairan di alaksanakan pada hari minggu 12 Novemebr 2017. Betempat di
perairan sungai musi dari Ampera titik awal hingga ke palau kemaro sumatra
selatan dan di lanjutakn di Laboratorium terpadu Universitas PGRI Palembang.
2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan
yang digunakan pada praktikum ekologi perairan menggunakan alat dan bahan di
anataranya : exman Grap, Secchi Disk, pipet tetes, Botol sampel, planton net, GPS, ember,
alkohol, cawan petri, kertas saring,open, pH meter, Botol pastik, sampel air,
saringan sedimen, Neraca analitik, Mikroskop, dan tali.
D. Hasil
dan Pembahasan
1.
Hasil
Lokasi I : 48 UTM x
:0474399 Y:
9669709
ketinggian air 2 m
secchi disk 17 cm
PH 7,8
Lokasih II : 48 UTM x: 0478501 Y:
9669781
ketinggian 8 m
secchi disk 15 cm
pH 7.8
Berat awal : 0,6 gr
Berat ahir : 0,5 gr
TTS : 0,6 gr – 0,5 gr / 50
: 0,1 gr/ 50
ml x 20x20
: 2 / 1000
: 0,002
2.
Pembahasan
Dari pengambilan sampel di sungai musi banyak
sekali Planton dan bentos, praktikum kali ini terlambat mengamati sehingga yang
di amati sampel planton itu mati dan membusuk, dan ada beberapa dari planton
yang dapat, dan yang dapat dari bentos terdapat sisik ikan dan sisa sia daun
yang telah mati, jadai praktikum yang di amati di praktikum ini platon kami
tidak bsia melihat dengan nyata karena tidak palnton dan bentos yang diamati
rusak sehingga yang di mati tinggal sisa sisa dari planton dan bentos.
Pengambilan sampel dapat dilakukan baik
secara vertikal maupun horisontal. Pengambilan sampel secara vertikal sering
mengikuti petunjuk kedalaman standar oseanografi (Michael, 1995). Peralatan
sampling yang digunakan untuk pengambilan sampel pada umumnya berbeda-beda
menurut ukuran plankton. Pada pengambilan sampel fitoplankton dan nanoplankton
dapat dilakukan dengan cara:
1.
Menggunakan jaring plankton yang memilki diameter mulut sebesar 30 cm
dan mata jaring 64 mm.
2.
Pengambilan sampel dengan anung Van Dorn atau Niskin, ditampung dalam
botol sampel (250 ml) diberi bahan pengawet Formalin atau larutan Lugol.
3.
Pengambilan sampel dengan tabung Van Dorn atau Niskin, selanjutnya
dilakukan penyaringan sebanyak lebih dari 21 dengan jaring plankton berdiameter
15 cm dengan mata jaring 20 mm (Michael, 1995).
Pengambilan zooplankton pada umumnya
dilakukan dengan menggunakan jaring plankton, meskipun dapat dilakukan dengan
cara lain, misalnya melakukan penyedotan air dengan pompa, kemudian air
disaring dengan jaring tertentu (102 mm, 200 mm atau 300 mm). Cara ini cukup
jarang dilakukan karena memerlukan peralatan khusus dan wahana praktikum yang
dilengkapi peralatan listrik agar dapat melakukan penyedotan air dan dalam
pengoperasiannya hanya terbatas pada kedalaman permukaan (Michael, 1995).
Pemberian bahan pengawet pada sampel
dimaksudkan agar sampel-sampel yang tidak dapat diamati segera setelah
pengambilan sampel, tidak mengalami kerusakan. Jenis-jenis bahan pengawet yang
umum digunakan di lapangan adalah Formalin, larutan Lugol, dan larutan Bouin.
Sedangkan penggunaan alkohol untuk pengawet plankton jarang dilakukan.
Pemberian bahan pengawet dilakukan dengan segera setelah sampel ditampung dalam
botol sampel agar plankton tidak mengalami kerusakan akibat terjadi proses
pembusukan (Michael, 1995).
Terdapat dua metode sampling plankton
yang dikenal sesuai dengan tujuannya dibagi menjadi:
1. Kualitatif, yaitu bertujuan untuk
menyesuaikan jenis-jenis plankton.
2. Kuantitatif, yaitu bertujuan untuk
mengetahui kelimpahan plankton Hariyanto,
2008).
Metode sampling kuantitatif pada umumnya
dilakukan untuk mengetahui kepadatan plankton per satuan volume. Sampling plankton
secara kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan jaring plankton (plankton
net). Penggunaan jaring plankton, selain sangat praktis, juga memperoleh sampel
yang cukup banyak. Jaring plankton umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai
ukuran dengan panjang jaring sekitar 4-5 kali diameter mulutnya.
E. Kesimpulan
Dari hasil praktikm dapat di
simpulkan bahawa :
1.
Planton yang di amti hanya ada sisa sisa dari planton dan bentos yang telah
membusuk
2.
terdapat sisik ikan dan daunan yang sadah teruarai
3.
Pemberian bahan
pengawet pada sampel dimaksudkan agar sampel-sampel yang tidak dapat diamati
segera setelah pengambilan sampel, tidak mengalami kerusakan
DAFTAR
PUSTAKA
Barus,
T.A. 2002. Pengantar Limmnologi.
Medan: Departemen Pendidikan Nasional.
Dianthani, D. 2003. Identifikasi
Jenis Plankton di Perairan Muara Badak,Kalimantan
Timur. (http://www.geocities.com).
Diakses 20
November 2017.
Gusrina,
2008. Budidaya Ikan Jilid I. Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Klaten: PT. Macaan Jaya Cemerlang.
Hutagalung,
H. P. 1997. Metode Analisis Air Laut
Sedimen dan Biota. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Oseanologi. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia.
Mentari, D. 2012. Sistematika Tumbuhan Rendah. (http:/mentarib1ru.blogspot.com/2012/sistematika_tumbuhan_rendah_5035.html).
Diakses pada tanggal 4 Mei 2013.
Michael,
P. 1995. Metode Ekologi untuk
Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Press).
Mukayat, D.B. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Nyibakken. 2012. Pengertian dan Definisi Plankton. (http://blogger.com/pengertian-dan-definisi-plankton//).
Diakses 20
November 2017.
Odum,
E. P., 1997. Dasar-dasar Ekologi Edisi
Ketiga. Yogyakarta: UGM Press.
Rahma,
Y. F. 2006. Keanekaragaman dan Kelimpahan
Makrozoobentos di Hutan Mangrove Hasil Rehabilitasi Taman Hutan Raya Ngurah Rai
Bali. Surakarta: UNS Surakarta.
Stewart, M.E., dkk. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Jakarta
: UI-press.
Umar,
N. A. 2002. Hubungan antara Kelimpahan
Fitoplankton dan Zooplankton (Kopeoda) dengan Larva Kepiting di Peraian Teluk
Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Wickstead,
J.H. 1965. An Introduction to the Study
of Tropical Plankton Hutchinson.
Yazwar.
2008. Keanaekargaman Plankton dan
Keterkaitannya dengan Kualitas Air di Parapat Danau Toba. Sumatera Utara :
Universitas Sumatera Utara.
LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN
EKOSISTEM SUNGAI MUSI
Disusun
Oleh :
Nama : Syahirul Alim
NIM : 2017411019.P
Dosen : Dr. Syaiful Edddy, M.Si
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG 2017
No comments:
Post a Comment