LAPORAN
KULTUR JARINGAN
PENGENALAN ALAT
![]() |
Disusun
oleh Kelompok III :
|
1
|
Denis Kartika
|
2016 411 018
|
|
2
|
Khusnul Khotimah
|
3016 411 019
|
|
3
|
Khurotul Khadiah
|
2016 411 015
|
|
4
|
Nadela Agitaria
|
2016 411 017
|
|
5
|
Yayat Nurhayati
|
2016 411 016
|
|
6
|
Syahirul Alim
|
2017 411 019.P
|
JURUSAN
BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS
PGRI PALEMBANG
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan
tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman
dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta
menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya
nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya
sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman
lengkap (Tribowo, 2008).
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak
tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif.
Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan,
antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak
dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas,
mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat,
kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat
dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Zulkarnain, 2009).
Alat-alat yang digunakan dalam kultur jaringan yaitu
sebagai berikut; Botol kultur , Cawan Petri , Oven ,Tabung reaksi, Autoclave ,
Bunsen, Erlenmeyer,Pinset,Neraca Analitik,Pipet,Hot plate,Lamina air
flow,scapel,labu ukur. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan di
laboratorium memerlukan perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik
masing-masing.Perlakuan yang salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan
alat dan bahan di Laboratorium dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan,
terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menimbulkan penyakit.Cara memperlakukan
alat dan bahan di Laboratorium secara tepat dapat menentukan keberhasilan dan
kelancaran kegiatan. Adapun perlakuan terhadap alat-alat di laboratorium
seperti membawa alat sesuai petunjuk penggunaan, menggunakan alat sesuai
petunjuk penggunaan, menjaga kebersihan alat, dan menyimpan alat.Berdasarkan
uraian sebelumnya maka perlu adanya pengetahuan tentang berbagai peralatan yang
digunakan dalam kultur jaringan.
1.2
Tujuan Praktikum
- Mengetahui fungsi alat-alat Kultur Jaringan.
- Mahasiswa memahami prosedur kerja praktikum.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Kultur
jaringan
Kultur jaringan merupakan salah satu
cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik
perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata
tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara
aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang
tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi
menjadi tanaman lengkap (Tribowo, 2008).
Metode kultur jaringan dikembangkan
untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit
dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan
mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan
induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu
membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar
dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan
tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Zulkarnain,
2009).
Alat-alat yang digunakan dalam
kultur jaringan yaitu sebagai berikut; Botol kultur , Cawan Petri , Oven
,Tabung reaksi, Autoclave , Bunsen, Erlenmeyer,Pinset, Neraca Analitik, Pipet,Hot plate,Lamina air low,scapel,labu
ukur. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium memerlukan
perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik masing-masing.Perlakuan yang
salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan alat dan bahan di Laboratorium
dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan, terjadinya kecelakaan kerja serta
dapat menimbulkanpenyakit.Cara memperlakukan alat dan bahan di
Laboratorium secara tepat dapat menentukan keberhasilan dan kelancaran
kegiatan. Adapun perlakuan terhadap alat-alat di laboratorium seperti membawa
alat sesuai petunjuk penggunaan, menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan,
menjaga kebersihan alat, dan menyimpan alat.Berdasarkan uraian sebelumnya maka
perlu adanya pengetahuan tentang berbagai peralatan yang digunakan dalam kultur
jaringan.
2.2 Pengenalan Laboratorium Kultur
Jaringan Tumbuhan
Laboratorium
Kultur Jaringan Tumbuhan terdiri dari ruangan-ruangan yang dipisahkan
berdasarkan fungsinya, yaitu ruang persiapan (preparation area), ruang
penanaman (transfer area), ruang pertumbuhan (growing area). Seberapapun
luasnya laboratorium, ketiga ruang tersebut harus ada. Ketiga ruang di atas
juga harus terpisah dari kebun bibit dan green house untuk menghindari masuknya
kontaminasi ke dalam ruang kultur. Kebersihan lantai, meja dan kursi harus
terus dijaga secara intensif (Hartman dkk, 1997).
1. Ruang
Persiapan (preparation area)
Ruang
persiapan merupakan ruangan yang mempunyai 3 fungsi dasar yaitu untuk
membersihkan alat-alat (alat-alat gelas seperti petri, botol, dll), persiapan
dan sterilisasi media, dan penyimpanan alat-alat gelas. Sebuah bak untuk
mencuci yang dilengkapi dengan kran untuk aliran air mengalir juga diperlukan
untuk membersihkan alat-alat berbahan gelas. Selain itu diperlukan meja yang
permukaanya dilapisi dengan bahan yang mudah dibersihkan. Peralatan selanjutnya
yang digunakan dalam ruang preparasi adalah lemari es untuk menyimpan larutan
stok dan beberapa media, timbangan analitik, autoclave, pH meter, magnetic
stirrer, destilator (Hartmann dkk., 1997).
Selain
alat di atas, ruangan ini juga 3 dilengkapi dengan alat-alat seperti Hot plate
dengan magnetic stirer,Oven, pH meter , kompor gas, labu takar, gelas piala,
erlenmeyer, pengaduk gelas, spatula, petridish, pipet, botol kultur, pisau
scalpel
2. Ruangi
Penanaman (Transfer area)
Ruang
penanaman merupakan ruang yang digunakan untuk isolasi, inokulasi dan subkultur
(penjarangan) pada kondisi steril yang di dalamnya terdapat lemari kaca atau
kabinet yang disebut Laminar Airflow (LAF). Laminar Airflow ini digunakan untuk
pemotongan eksplan, melakukan penanaman dan subkultur. Akan tetapi jika tidak
ada LAF yang memadai, tahap isolasi (pemotongan eksplan) dapat dilakukan di
antara kertas saring steril. Sangat dianjurkan untuk menggunakan jas
laboratorium yang bersih selama tahap persiapan dan mensterilkan tangan dengan
alkohol 96% (Pierik, 1987).
Alat-alat
seperti scalpel, gunting dan alat-alat inokulasi lainnya harus disterilkan
dengan alkohol 96% dan dilanjutkan dengan pemanasan di atas api bunsen. Lampu
ultraviolet (UV) juga digunakan untuk mensterilkan ruang, sebelum LAF
digunakan. Pemotongan eksplan juga dilakukan di dalam LAF yang kemudian
dilanjutkan dengan beberapa tahapan sterilisasi sebelum ditanam pada media
kultur. Selama inokulasi atau penanaman, botol yang berisi media padat pada prinsipnya
pada kondisi horisontal, hal ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi,
terutama ketika tidak bekerja dalam LAF. Subkultur atau tahap penjarangan juga
dilakukan dalam LAF, dan merupakan tahapan yang perlu dilakukan pada metode
kultur jaringan. Ada beberapa alasan perlu dilakukannya subkultur, diantaranya
yaitu nutrisi media yang semakin lama semakin berkurang, munculnya browning
atau media agar menjadi kecoklatan karena jaringan tanaman kadang mengeluarkan
senyawa toksik, atau eksplan membutuhkan tahap perkembangan lebih lanjut.
3. Ruang
pertumbuhan atau Inkubasi (Growing area)
Growing area merupakan ruang pertumbuhan atau
ruang penyimpanan hasil kultur pada kondisi cahaya dan temperatur yang
terkontrol. Ruang pertumbuhan ini terdiri dari rakrak yang biasanya terbuat
dari kaca dan digunakan untuk meletakkan botol-botol kultur setelah proses
penanamanan pada ruang isolasi di dalam LAF. Rak-rak yang digunakan untuk
inkubasi dilengkapi dengan lampu neon di atasnya sebagai sumber cahaya.
Sedangkan ruang pertumbuhan dalam kultur jaringan dilengkapi dengan Air
conditioner (AC) untuk mengontrol suhu ruang.
BAB
III
METODOLOGI
3.1.Waktu dan Tempat
Praktikum kultur jaringan ini dilaksanakan pada hari rabu, 31 oktober 2018,
pukul 08.00-10.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Science Center Universitas
PGRI Palembang.
3.2. Alat dan Bahan
Alat-alat
yang diperkenalkan pada praktikum kultur jaringan adalah Botol
kultur, Cawan Petridish, Laminar Air Flow,Auto
clave,Hot plane, Shacker,Kulkas, Lemari larutan kimia,keranjang botol kultur,
Timbangan analitik,dan PH meter digital.
3.3
Prosedur Kerja
a. Semua peserta di bagi berdasarkan
kelompoknya.
b. Kemudian perkelompok berjalan dari
ruangan ke ruangan yang lain untuk
mendapatkan penjelasan dari asisten dosen tentang alat-alat dan
bahan yang digunakan dalam kultur jaringan .
c. Menulis penjelasan yang diberikan
dan menanyakan apabila ada yang kurang jelas.
d. Mengambil gambar alat alat lab
kultur jaringan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
|
NO
|
Nama Alat
|
Gambar
|
Fungsi
|
||||
|
|
Botol Kultur
|
|
Sebagai
tempat untuk menkulturkan atau menanam eksplan
|
||||
|
|
Cawan Petridish
|
|
sebagai
media perkembangan mikroorganisme
|
||||
|
|
|
|
|
||||
|
|
Autoclave
|
|
untuk mensterilkan
media, baik media agar atau pun media cair. Juga dapat digunakan untuk
sterilisasi tanah atau kompos yang akan digunakan untuk media tanaman.
|
||||
|
|
Hot Plane
|
|
untuk
homogen dan juga untuk pemanas. Hot plate juga merupakan alat untuk mencampur dan memasak
media kultur.Hot plate digunakan untuk memasak segala macam bahan nutrisi
dengan melibatkan pengaduk dan pemanas.
|
||||
|
|
Shacker
|
|
mesin
pengguncang, yang digunakan dalam proses perbanyakan sel atau pertumbuhan PLB
(Protocrm Likes Body) dalam kegiatan kultur jaringan, setelah dilakukan
inokulasi eksplan.
|
||||
|
|
Kulkas
|
|
Sebagai tempat penyimpanan larutan kimia dan bagian
tanaman yang akan dikulturkan agar tahan lama.
|
||||
|
|
Rak botol kultur
|
|
Sebagai tempat penyimpanan botol kultur yang telah
ditanam.
|
||||
|
|
Lemari larutan kimia
|
|
Sebagai tempat penyimpanan berbagai macam larutan
kimia.
|
||||
|
|
|
|
|
||||
|
|
Keranjang botol kultur
|
|
Sebagai tepat penyimpana botol kultur yang telah
disterilisasi.
|
||||
|
|
Timbangan analitik
|
|
Berfungsi
untuk menimbang nutrisi yang akan diberikan pada media.
|
||||
|
|
PH meter digital
|
|
Berfungsi untuk mengukur ph secara akurat.
|
4.2 Pembahasan
Dalam
praktikum kultur jaringan alat yang digunakan terdiri atas: Botol
kultur, Cawan Petridish, Laminar Air Flow,Auto
clave,Hot plane, Shacker,Kulkas, Lemari larutan kimia,keranjang botol kultur,
Timbangan analitik, PH meter digital. Botol kultur merupakan tempat untuk menkulturkan atau
menanam eksplan. Cawan petridish adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan
terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk
membiakkan sel. Cawan Petridish selalu berpasangan, yang ukurannya
agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Alat ini
digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Cawan Petridish plastik
dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri,terbuat dari kaca
atau plastik yang berbentuk silider, yang digunakan untuk membiakan bakteri.
Selain itu fungsi dari cawan petridish adalah sebagai media perkembangan
mikroorganisme (Hallmann, 2001 ). Autoclave adalah salah satu jenis
pressure vessel yang berfungsi untuk menampung udara panas bertekanan.Autoclave
digunakan untuk mensterilkan alat-alat
seperti botol
kultur,erleneyer dan lain-lain.
Timbangan analitik Berfungsi untuk
menimbang nutrisi yang akan diberikan pada media. Hotplate adalah suatu alat
yang berfungsi untuk homogen dan juga untuk pemanas.Hotplate juga merupakan
alat untuk mencampur dan memasak media kultur.Hotplate digunakan untuk memasak
segala macam bahan nutrisi dengan melibatkan pengaduk dan pemanas.Pengadukan
dan pemanas yang dihasilkan oleh alat ini bersumber pada energi listrik.
Besarnya kecepatan pengaduk dan pemanasan dapat diatur berdasarkan
keperluan(Suryowinoto,1991).
Laminar
air flow adalah suatu alat yang digunakan dalam pekerjaan : persiapan bahan
tanaman, penanaman, dan pemindahan tanaman dari sutu botol ke botol yang lain
dalam kultur jaringan. Alat ini disebut Laminar Air Flow Cabinet, karena
meniupkan udara steril secara kontinue melewati tempat kerja sehingga tempat
kerja bebas dari, debu dan spora-spora yang mungkin jatuh kedalam media, waktu
pelaksanaan penanaman. Aliran udara berasal dari udara ruangan yang ditarik ke
dalam alat melalui filter pertama, yang kemudian ditiupkan keluar melalui
filter yang sangat halus disebut HEPA (High efficiency Particulate Air
FilterI), dengan menggunakan blower. Fungsi laminar air flow iniI untuk menanam
eksplan ke dalam botol dalam kondisi steril atau melakukan sub kultur yang
dilengkapi dengan blower dan lampu UV ( Wetherel, D. F.
1982 ).
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
a.
Kita
harus selalu memperhatikan perlengkapan dan alat keselamatan kita saat kita berada di dalam laboratorium dan
melakukan praktikum.
b.
Di
dalam laboratorium kita harus selalu mengikuti petunjuk dari asisten sebelum
melakukan kegiatan praktikum.
c.
Sebelum
praktikum di mulai kita harus terlebih dahulu mengetahui fungsi dan cara menggunakan
alat yang akan kita gunakan.
d.
Peralatan
yang terdapat di laboratorium kultur jaringan diantaranya adalah: Botol
kultur, Cawan Petridish, Laminar Air Flow,Auto
clave,Hot plane, Shacker,Kulkas, Lemari larutan kimia,keranjang botol kultur,
Timbangan analitik, PH meter digital dan lain lain.
5.2. Saran
Adapun saran yang dapat di berikan yaitu sebaiknya
memperhatiak fungsi dan cara menggunakan alat agar tidak terjadi kesalahan
dalam penggenalan alat.
DAFTAR PUSTAKA
Edhi Sandra
.2013. Cara Mudah Memahami dan Menguasai Kultur Jaringan. IPB Press.
Endang G.
Lestari. 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan Tanaman melalui
Kultur Jaringan. Jurnal Biogen 7 (1):63-68
Hartmann, H.T.,
D.E. Kester, F.T. Davies Jr., and R.L. Geneve. 1997. Plant Propagation:
Principle And Practices. Sixth Ed.
Pierik, R.M.L.
1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff Publishers.
Dordrecht.The Netherlands.












No comments:
Post a Comment