Wednesday, November 13, 2019

Laporan Kultur jaringan pengenalan alat

LAPORAN  KULTUR JARINGAN
PENGENALAN ALAT

 











Disusun oleh Kelompok III :
1
Denis Kartika
2016 411 018
2
Khusnul Khotimah
3016 411 019
3
Khurotul Khadiah
2016 411 015
4
Nadela Agitaria
2016 411 017
5
Yayat Nurhayati
2016 411 016
6
Syahirul Alim
   2017 411 019.P



JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2018

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap (Tribowo, 2008).
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional        (Zulkarnain, 2009).
Alat-alat yang digunakan dalam kultur jaringan yaitu sebagai berikut; Botol kultur , Cawan Petri , Oven ,Tabung reaksi, Autoclave , Bunsen, Erlenmeyer,Pinset,Neraca Analitik,Pipet,Hot plate,Lamina air flow,scapel,labu ukur. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium memerlukan perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik masing-masing.Perlakuan yang salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan alat dan bahan di Laboratorium dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan, terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menimbulkan penyakit.Cara memperlakukan alat dan bahan di Laboratorium secara tepat dapat menentukan keberhasilan dan kelancaran kegiatan. Adapun perlakuan terhadap alat-alat di laboratorium seperti membawa alat sesuai petunjuk penggunaan, menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan, menjaga kebersihan alat, dan menyimpan alat.Berdasarkan uraian sebelumnya maka perlu adanya pengetahuan tentang berbagai peralatan yang digunakan dalam kultur jaringan.

1.2 Tujuan Praktikum
  1. Mengetahui fungsi alat-alat Kultur Jaringan.
  2. Mahasiswa memahami prosedur kerja praktikum.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Kultur jaringan
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap (Tribowo, 2008).
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Zulkarnain, 2009).
Alat-alat yang digunakan dalam kultur jaringan yaitu sebagai berikut; Botol kultur , Cawan Petri , Oven ,Tabung reaksi, Autoclave , Bunsen, Erlenmeyer,Pinset, Neraca Analitik, Pipet,Hot plate,Lamina air low,scapel,labu ukur. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium memerlukan perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik masing-masing.Perlakuan yang salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan alat dan bahan di Laboratorium dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan, terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menimbulkanpenyakit.Cara memperlakukan alat dan bahan di Laboratorium secara tepat dapat menentukan keberhasilan dan kelancaran kegiatan. Adapun perlakuan terhadap alat-alat di laboratorium seperti membawa alat sesuai petunjuk penggunaan, menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan, menjaga kebersihan alat, dan menyimpan alat.Berdasarkan uraian sebelumnya maka perlu adanya pengetahuan tentang berbagai peralatan yang digunakan dalam kultur jaringan.

2.2  Pengenalan Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan
Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan terdiri dari ruangan-ruangan yang dipisahkan berdasarkan fungsinya, yaitu ruang persiapan (preparation area), ruang penanaman (transfer area), ruang pertumbuhan (growing area). Seberapapun luasnya laboratorium, ketiga ruang tersebut harus ada. Ketiga ruang di atas juga harus terpisah dari kebun bibit dan green house untuk menghindari masuknya kontaminasi ke dalam ruang kultur. Kebersihan lantai, meja dan kursi harus terus dijaga secara intensif (Hartman dkk, 1997).
1.      Ruang Persiapan (preparation area)
Ruang persiapan merupakan ruangan yang mempunyai 3 fungsi dasar yaitu untuk membersihkan alat-alat (alat-alat gelas seperti petri, botol, dll), persiapan dan sterilisasi media, dan penyimpanan alat-alat gelas. Sebuah bak untuk mencuci yang dilengkapi dengan kran untuk aliran air mengalir juga diperlukan untuk membersihkan alat-alat berbahan gelas. Selain itu diperlukan meja yang permukaanya dilapisi dengan bahan yang mudah dibersihkan. Peralatan selanjutnya yang digunakan dalam ruang preparasi adalah lemari es untuk menyimpan larutan stok dan beberapa media, timbangan analitik, autoclave, pH meter, magnetic stirrer, destilator (Hartmann dkk., 1997).
Selain alat di atas, ruangan ini juga 3 dilengkapi dengan alat-alat seperti Hot plate dengan magnetic stirer,Oven, pH meter , kompor gas, labu takar, gelas piala, erlenmeyer, pengaduk gelas, spatula, petridish, pipet, botol kultur, pisau scalpel
2.      Ruangi Penanaman (Transfer area)
Ruang penanaman merupakan ruang yang digunakan untuk isolasi, inokulasi dan subkultur (penjarangan) pada kondisi steril yang di dalamnya terdapat lemari kaca atau kabinet yang disebut Laminar Airflow (LAF). Laminar Airflow ini digunakan untuk pemotongan eksplan, melakukan penanaman dan subkultur. Akan tetapi jika tidak ada LAF yang memadai, tahap isolasi (pemotongan eksplan) dapat dilakukan di antara kertas saring steril. Sangat dianjurkan untuk menggunakan jas laboratorium yang bersih selama tahap persiapan dan mensterilkan tangan dengan alkohol 96% (Pierik, 1987).
Alat-alat seperti scalpel, gunting dan alat-alat inokulasi lainnya harus disterilkan dengan alkohol 96% dan dilanjutkan dengan pemanasan di atas api bunsen. Lampu ultraviolet (UV) juga digunakan untuk mensterilkan ruang, sebelum LAF digunakan. Pemotongan eksplan juga dilakukan di dalam LAF yang kemudian dilanjutkan dengan beberapa tahapan sterilisasi sebelum ditanam pada media kultur. Selama inokulasi atau penanaman, botol yang berisi media padat pada prinsipnya pada kondisi horisontal, hal ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi, terutama ketika tidak bekerja dalam LAF. Subkultur atau tahap penjarangan juga dilakukan dalam LAF, dan merupakan tahapan yang perlu dilakukan pada metode kultur jaringan. Ada beberapa alasan perlu dilakukannya subkultur, diantaranya yaitu nutrisi media yang semakin lama semakin berkurang, munculnya browning atau media agar menjadi kecoklatan karena jaringan tanaman kadang mengeluarkan senyawa toksik, atau eksplan membutuhkan tahap perkembangan lebih lanjut.
3.      Ruang pertumbuhan atau Inkubasi (Growing area)
 Growing area merupakan ruang pertumbuhan atau ruang penyimpanan hasil kultur pada kondisi cahaya dan temperatur yang terkontrol. Ruang pertumbuhan ini terdiri dari rakrak yang biasanya terbuat dari kaca dan digunakan untuk meletakkan botol-botol kultur setelah proses penanamanan pada ruang isolasi di dalam LAF. Rak-rak yang digunakan untuk inkubasi dilengkapi dengan lampu neon di atasnya sebagai sumber cahaya. Sedangkan ruang pertumbuhan dalam kultur jaringan dilengkapi dengan Air conditioner (AC) untuk mengontrol suhu ruang.



BAB III
METODOLOGI

3.1.Waktu dan Tempat
Praktikum kultur jaringan ini dilaksanakan pada hari rabu, 31 oktober 2018, pukul 08.00-10.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Science Center Universitas PGRI Palembang.
3.2. Alat dan Bahan
Alat-alat yang diperkenalkan pada praktikum kultur jaringan adalah Botol kultur, Cawan Petridish, Laminar Air Flow,Auto clave,Hot plane, Shacker,Kulkas, Lemari larutan kimia,keranjang botol kultur, Timbangan analitik,dan PH meter digital.

3.3   Prosedur Kerja
a.       Semua peserta di bagi berdasarkan kelompoknya.
b.      Kemudian perkelompok berjalan dari ruangan ke ruangan yang lain untuk  mendapatkan penjelasan dari asisten dosen tentang alat-alat dan bahan yang digunakan dalam kultur jaringan .
c.       Menulis penjelasan yang diberikan dan menanyakan apabila ada yang kurang jelas.
d.      Mengambil gambar alat alat lab kultur jaringan











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
NO
Nama Alat
Gambar
Fungsi

 
Botol Kultur

Sebagai tempat untuk menkulturkan atau menanam eksplan

 
Cawan Petridish

sebagai media perkembangan mikroorganisme



 


 
Autoclave









untuk mensterilkan media, baik media agar atau pun media cair. Juga dapat digunakan untuk sterilisasi tanah atau kompos yang akan digunakan untuk media tanaman.

 
Hot Plane

untuk homogen dan juga untuk pemanas. Hot plate juga merupakan alat untuk mencampur dan memasak media kultur.Hot plate digunakan untuk memasak segala macam bahan nutrisi dengan melibatkan pengaduk dan pemanas.

 
Shacker

mesin pengguncang, yang digunakan dalam proses perbanyakan sel atau pertumbuhan PLB (Protocrm Likes Body) dalam kegiatan kultur jaringan, setelah dilakukan inokulasi eksplan.

 
Kulkas

Sebagai tempat penyimpanan larutan kimia dan bagian tanaman yang akan dikulturkan agar tahan lama.

 
Rak botol kultur

Sebagai tempat penyimpanan botol kultur yang telah ditanam.

 
Lemari larutan kimia

Sebagai tempat penyimpanan berbagai macam larutan kimia.





 
Keranjang botol kultur

Sebagai tepat penyimpana botol kultur yang telah disterilisasi.

 
Timbangan analitik
 
Berfungsi untuk menimbang nutrisi yang akan diberikan pada media.

PH meter digital

Berfungsi untuk mengukur ph secara akurat.




4.2 Pembahasan
Dalam praktikum kultur jaringan alat  yang digunakan terdiri atas: Botol kultur, Cawan Petridish, Laminar Air Flow,Auto clave,Hot plane, Shacker,Kulkas, Lemari larutan kimia,keranjang botol kultur, Timbangan analitik, PH meter digital. Botol kultur merupakan tempat untuk menkulturkan atau menanam eksplan. Cawan petridish adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel. Cawan Petridish  selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakterikhamirspora, atau biji-bijian. Cawan Petridish plastik dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri,terbuat dari kaca atau plastik yang berbentuk silider, yang digunakan untuk membiakan bakteri. Selain itu fungsi dari cawan petridish adalah sebagai media perkembangan mikroorganisme (Hallmann, 2001 ). Autoclave adalah salah satu jenis pressure vessel yang berfungsi untuk menampung udara panas bertekanan.Autoclave digunakan untuk mensterilkan alat-alat  seperti botol kultur,erleneyer dan lain-lain.
 Timbangan analitik Berfungsi untuk menimbang nutrisi yang akan diberikan pada media. Hotplate adalah suatu alat yang berfungsi untuk homogen dan juga untuk pemanas.Hotplate juga merupakan alat untuk mencampur dan memasak media kultur.Hotplate digunakan untuk memasak segala macam bahan nutrisi dengan melibatkan pengaduk dan pemanas.Pengadukan dan pemanas yang dihasilkan oleh alat ini bersumber pada energi listrik. Besarnya kecepatan pengaduk dan pemanasan dapat diatur berdasarkan keperluan(Suryowinoto,1991).
Laminar air flow adalah suatu alat yang digunakan dalam pekerjaan : persiapan bahan tanaman, penanaman, dan pemindahan tanaman dari sutu botol ke botol yang lain dalam kultur jaringan. Alat ini disebut Laminar Air Flow Cabinet, karena meniupkan udara steril secara kontinue melewati tempat kerja sehingga tempat kerja bebas dari, debu dan spora-spora yang mungkin jatuh kedalam media, waktu pelaksanaan penanaman. Aliran udara berasal dari udara ruangan yang ditarik ke dalam alat melalui filter pertama, yang kemudian ditiupkan keluar melalui filter yang sangat halus disebut HEPA (High efficiency Particulate Air FilterI), dengan menggunakan blower. Fungsi laminar air flow iniI untuk menanam eksplan ke dalam botol dalam kondisi steril atau melakukan sub kultur yang dilengkapi dengan blower dan lampu UV ( Wetherel, D. F. 1982 ).




BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
a.       Kita harus selalu memperhatikan perlengkapan dan alat keselamatan kita saat  kita berada di dalam laboratorium dan melakukan praktikum. 
b.      Di dalam laboratorium kita harus selalu mengikuti petunjuk dari asisten sebelum melakukan kegiatan praktikum.
c.       Sebelum praktikum di mulai kita harus terlebih dahulu mengetahui fungsi dan cara menggunakan alat yang akan kita gunakan.
d.      Peralatan yang terdapat di laboratorium kultur jaringan diantaranya adalah: Botol kultur, Cawan Petridish, Laminar Air Flow,Auto clave,Hot plane, Shacker,Kulkas, Lemari larutan kimia,keranjang botol kultur, Timbangan analitik, PH meter digital dan lain lain.

5.2. Saran
Adapun saran yang dapat di berikan yaitu sebaiknya memperhatiak fungsi dan cara menggunakan alat agar tidak terjadi kesalahan dalam penggenalan alat.
DAFTAR PUSTAKA

Edhi Sandra .2013. Cara Mudah Memahami dan Menguasai Kultur Jaringan. IPB Press.
Endang G. Lestari. 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan Tanaman melalui Kultur Jaringan. Jurnal Biogen 7 (1):63-68
Hartmann, H.T., D.E. Kester, F.T. Davies Jr., and R.L. Geneve. 1997. Plant Propagation: Principle And Practices. Sixth Ed.
Pierik, R.M.L. 1987. In Vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff Publishers. Dordrecht.The Netherlands.




No comments:

Post a Comment

laporan praktikum paku

BAB I PENDAHULUANA A.Latar Belakang Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu golongantumbuhan yang ...