BAB
I
PENDAHULUANA
A.Latar Belakang
Tumbuhan paku
(Pteridophyta) merupakan salah satu golongantumbuhan yang hampir dapat dijumpai
pada setiap wilayah di Indonesia.Tumbuhan paku dikelompokkan dalam satu divisi
yang jenis-jenisnya telah jelasmempunyai kormus dan dapat dibedakan dalam tiga
bagian pokok Ytu
akar, batang, dan daun. Bagi manusia, tumbuhan paku telah banyak dimanfaatkanantara
lain sebagai tanaman hias, sayuran dan bahan obat-obatan. Namun secaratidak
langsung, kehadiran tumbuhan paku turut memberikan manfaat dalammemelihara
ekosistem hutan antara lain dalam pembentukan tanah, pengamanantanah terhadap
erosi, serta membantu proses pelapukan serasah hutan.Tumbuhan paku merupakan
salah satu tanaman yang tidak lepas dariusaha penyederhanaan obyek studi. Hal
ini berkaitan dengan jumlah dankeanekaragaman tumbuhan paku yang sangat besar
di alam, yaitu mecapai kuranglebih 9000 spesies. (Wilson dan Loomis,
1966).Tumbuhan paku dapat tumbuh pada habitat yang berbeda. Berdasarkantempat
hidupnya, tumbuhan paku ditemukan tersebar luas mulai daerah tropishingga dekat
kutub utara dan selatan. Mulai dari hutan primer, hutan sekunder,alam terbuka,
dataran rendah hingga dataran tinggi, lingkungan yang
lembab, basah, rindang, kebun tanaman, pinggir jalan paku dapat dijumpai (Loveless,1989).Di
sisi lain, tumbuhan paku juga memiliki nilai ekonomi yang cukuptinggi,terutama
pada keindahannya dan sebagai tanaman holtikultura, sebagaitanaman hias
(Polunin, 1994). Dan tumbuhan paku juga dapat dimanfaatkan untuksayuran
dan obat-obatan tradisional.Tumbuhan yang ada di alam ini mempunyai jumlah yang
beraneka-ragam sehingga menimbulkan kesadaran manusia untuk menyederhanakan
obyekstudi melalui klasifikasi, identifikasi dan pemberian nama yang tepat
untuk setiapkelompok tumbuhan dengan memanfaatkan karakter yang terdapat pada
setiap
tumbuhan, dan menggolongkannya ke dalam
kelompok-kelompok tertentu(Tjitrosoepomo, 1993).Penyebaran dan keanekaragaman
tumbuhan paku memang sangat besar, begitu
pula dengan potensi dan manfaatnya yang cukup penting baik untuktanaman
hias, sayuran,obat-obatan hingga peranannya sebagai keseimbanganekosistem.
Namun, data dasar tumbuhan paku berkenaan dengan komposisi,keanekaragaman dan
distribusi belum banyak terungkap. Oleh karena itu, padalaporan ini dibahas
tentang klasifikasi dan deskripsi dari berbagai tumbuhan paku
1.2 TUJUAN
Untuk
mengetahui jenis –jenis tumbuhan paku
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TUMBUHAN PAKU
Tumbuhan paku dalam dunia tumbuh-tumbuhan termasuk
golongan besar atau Divisi Pteridophyta (pteris = bulu burung; phyta =
tumbuhan), yang diterjemahkansecara bebas berarti tumbuhan yang berdaun seperti
bulu burung. Tumbuhan paku merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan
bertalus dengan tumbuhanberkormus, sebab paku mempunyai campuran sifat dan
bentuk antara lumut dengan tumbuhan tingkat tinggi.
Tumbuhan
paku (Pteridophyta) dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat rendah, karena
meskipun tubuhnya sudah jelas mempunyai kormus, serta mempunyai system pembuluh
tetapi belum menghasilkan biji, dan alat perkembangbiakan yang lain. Alat
perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Jadi penempatan
tumbuhan paku kedalam golongan tingkat rendah atau tinggi bias berbeda-beda
tergantung sifat yang digunakan sebagai dasar. Jika didasarkan pada macam alat
perkembangbiakannya, maka sebagai tumbuhan berspora tergolong tumbuhan tingkat
rendah. Namun, jika didasarkan pada macam ada atau tidaknya system pembuluh,
tumbuhan paku dapat digolongkan sebagai tumbuhan tingkat tinggi karena sudah
mempunyai berkas pembuluh.
Meskipun
tumbuhan paku mempunyai akar, batang, dan daun, tetapi untuk yang primitif
daunnya masih sangat sederhana. Tumbuhan paku belum mempunyai lamina dan masih
dinamakan microfil. Anggota dari Pteridophyta mempunyai habitus yang heterogen,
dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar.
Sebagai
tumbuhan tingkat rendah, Pteridophyta lebih maju dari pada Bryophyta karena
sudah mempunyai berkas pembuluh. Sporofitnya hidup bebas dan berumur panjang.
Sudah ada akar sejati, dan sebagian sudah merupakan tumbuhan heterospore.
Tumbuhan
paku dimasukkan dalam divisi tersendiri yaitu Pteridophyta, yang dapat
dibedakan atas beberapa kelas yaitu Psilophytineae, Lycopodineae, Equisetaneae,
dan Filicineae.
v Berdasarkan
habitatnya, tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu :
· Paku
Tanah
Tumbuhan
yang termasuk kelompok ini ialah paku-pakuan yang hidup di tanah, tembok dan
tebing terjal. Paku tanah dibedakan menjadi dua bagian yaitu :
1. Paku
Pemanjat
Tumbuhan
ini mempunyai rimpang yang ramping dan panjang, berakar dalam tanah, memanjat
pohon tapi tidak epifit. Beberapa contohnya adalah Bolbitis heteroclite
Ching dll.
2. Paku
batu-batuan dan tebing sungai
Tumbuhan
paku jenis ini tumbuh pada batu-batuan atau pada tebing sungai, menyukai
kelembaban. Rimpangnya menjalar pada permukaan batuan dan akar-akarnya masuk
kecelah-celah batu. Contohnya Pteris sericea Ching dll.
· Paku
Epifit
Jenis tumbuhan
ini hidup pada tumbuhan lain, terutama yang berbentuk pohon. Paku epifit dibagi
menjadi dua macam yaitu :
1. Epifit
pada tempat-tempat terlindung, tumbuhan ini tumbuh pada bagian bawah pohon di
hutan terutama dekat aliran air atau ditempat-tempat yang dibayangi pegunungan.
Contohnya anggota Hymenophyllaceae dll.
2. Epifit
pada tempat-tempat terbuka, tumbuhan ini terdapat pada tempat yang terkena
sinar matahari langsung atau agak teduh dan tahan terhadap angin. Contohnya
Drynaria J. Smith dll.
· Paku
Akuatik
Tumbuhan yang
termasuk kelompok ini mengapung bebas dipermukaan air. Contohnya ialah anggota
family Salviniaceae dan Marsileaceae.
v Berdasarkan
fungsinya, daun tumbuhan paku dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Tropofil
(daun steril)
Daun yang hanya
berfungsi untuk fotosintesis.
b. Sporofil
(daun fertil)
Fungsi utamanya
adalah menghasilkan sporangium, biasanya hamper semua sporofil juga berfungsi
sebagai organ untuk fotosintesis.
v Berdasarkan
ukuran daunnya, tumbuhan paku dibagi menjadi dua macam :
a. Isofil
Daun-daunnya
yang mempunyaiukuran sama atau serupa.
b. Anisofil
Daun-daunnya
terdiri atas 2 ukuran yaitu yang satu lebih besar dari yang lain.
· Lapisan
pelindung sel yang terdapat di sekeliling organ reproduksi,
· Embrio
multiseluler yang terdapat di dalam arkegonium,
· Lapisan
kutikula pada bagian luar tubuh,
· Sistem
transportasi internal yang berfungsi sebagai pengangkut air dan zat-zat mineral
dari dalam tanah,
· Struktur
tubuh terdiri atas bagian-bagian akar, batang dan daun,
· Akarnya
berupa rizoid yang bersifat seperti akar serabut dengan ujung dilindungi
kaliptra,
· Batangnya
pada umumnya tidak tampak (kecuali tumbuhan paku tiang) karena terdapat di
dalam tanah berupa rimpang, menjalar, atau sedikit tegak,
· Daunnya
yang muda umumnya melingkar atau menggulung.
1. Daun mikrofil (daun kecil), berbentuk seperti rambut atau sisik, tidak bertangkai dan bertulang daun serta belum memperlihatkan diferensiasi sel.
2. Daun makrofil
(daun besar), ukurannya besar, bertangkai, bertulang daun, dan
bercabang-cabang serta sel-selnya sudah terdiferensiasi dengan baik..
Embrio
sudah dapat dibedakan adanya dua kutub, yaitu kutub atas yang akan berkembang
menjadi tunas dan kutub bawah yang disebut kutub akar. Kutub akar tidak terus
berkembang membentuk akar, karena akar tumbuhan paku bersifat endogen dan
tumbuh ke samping dari batang. Dengan demikian embrio Pteridophyta bersifat
unipolar, akar yang keluar pertama tidak dominan dan segera disusul oleh
akar-akar lain yang muncul dari batang. Akar memiliki kaliptra.
Batang
Pteridophyta bercabang-cabang menggarpu atau membentuk cabang-cabang ke samping
yang bukan keluar dari ketiak daun. Daun-daun pada Pteridophyta yang
tinggi tingkat perkembangannya memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan daun
Spermatophyta. Dalam akar, batang dan daun terdapat jaringan pengangkut,
yaitu terdiri atas xylem dan floem. Berkas pengangkut konsentris amfikibral
yaitu xylem ditengah dikelilingi oleh floem.
Pertumbuhan
menebal sekunder karena kegiatan cambium belum ada. Sporofit memiliki
kormus yang sesungguhnya. Sporangium dan spora terbentuk pada daun,
kadang-kadang dalam ketiak atau ujung tunas. Daun-daun yang mempunyai sporangium
disebut sporofil, sedangkan daun-daun yang steril disebut
tropofil. Sporangium memiliki lapisan-lapisan dinding yang menyelubungi
jaringan sporogen. Sel-sel sporogen membulat dan memisahkan diri satu sama lain
menjadi sel-sel induk spora. Masing-masing membelah reduksi membentuk 4 spora
haploid yang dapat bergandengan tetraeder.
Lapisan
sel-sel yang mengandung banyak plasma dan berguna member makan pada sel-sel
sporogen dinamakan tapetum, terdapat di sekeliling jaringan sporogen. Spora
memiliki tiga lapis dinding, berturut-turut dari luar ke dalam yaitu
perisporium, eksosporium dan endosporium. Endosporium berdinding tipis menempel
di sebelah dalam eksosporium yang berdinding tebal dan kuat, sedangkan
perisporium merupakan lapisan tambahan yang dibentuk dari periplasmodium
(plasma yang melumuri sel-sel induk spora).
Warga
Pteridophyta amat heterogen bila ditinjau dari segi habitus dan cara hidupnya.
Ada
jenis yang sangat kecil dengan daun-daun kecil dan struktur yang masih sangat
sederhana, ada pula yang besar dengan daun-daun yang mencapai ukuran panjang
sampai 2 sampai 30 m dengan garis tengah batang sampai 2 m. dari segi cara
hidupnya ada jenis paku yang hidup teresterial, ada paku epifit, dan ada paku
air. Jutaan tahun lalu, hutan-hutan di bumi kemungkinan disusun atas warga
tumbuhan paku yang berupa pohon-pohon yang tinggi besar, dan kita kenal sisanya
sebagai batubara. Jenis-jenis yang sekarang masih ada sebagian besar bersifat
higrofit yang menyukai tempat-tempat teduh dan lembab serta berukuran tinggi
beberapa meter saja.
Jenis
paku yang menghasilkan spora berumah satu dan sama besar disebut paku homospor,
sporanya mempunyai sifat-sifat yang sama, dan setelah berkecambah menghasilkan
protalium dengan anteridium dan arkegonium. Contoh paku homospor dapat dijumpai
pada Filicineae. Paku yang protaliumnya tidak sama besar dan berumah dua
disebut paku heterospor, contohnya pada Selaginellales, dan Hydropteridales.
Pemisahan jenis kelamin telah terjadi pada pembentukan spora, selain berbeda
jenis kelaminnya juga berbeda ukurannya. Spora yang besar dinamakan makrospora
dan terbentuk dalam macrosporangium, dan pada waktu perkecambahan tumbuh
menjadi makroprotalium. Spora yang kecil disebut mikrospora, dihasilkan dalam
mikrosporangium. Mikrospora tumbuh menjadi mikroprotalium. Padanya terdapat
anteridium.
Tumbuhan
paku memiliki ukuran yang bervariasi dari yang tingginya sekitar 2 cm, misalnya
pada tumbuhan paku yang hidup mengapung di air, sampai tumbuhan paku yang hidup
di darat yang tingginya mencapai 5 m misalnya paku tiang (Sphaeropteris).
Tumbuhan paku purba yang telah menjadi fosil diperkirakan ada yang mencapai
tinggi 15 m. Bentuk tumbuhan paku yang hidup saat ini bervariasi, ada yang
berbentuk lembaran, perdu atau pohon, dan ada yang seperti tanduk rusa.
Tumbuhan paku terdiri dari dua generasi, yaitu generasi
sporofit dan generasi gametofit. Generasi sporofit dan generasi gametofit ini
tumbuh bergantian dalam siklus tumbuahan paku. Generasi sporofit adalah
tumbuhan yang menghasilkan spora sedangkan generasi gametofit adalah tumbuhan
yang menghasilkan sel gamet (sel kelamin). Pada tumbuhan paku, sporofit
berukuran lebih besar dan generasi hidupnya lebih lama dibandingkan generasi
gametofit. Oleh karena itu, generasi sporofit tumbuhan paku disebut generasi
dominan. Generasi sporofit inilah yang umumnya kita lihat sebagai tumbuhan
paku.
Tumbuhan paku sporofit pada umumnya memiliki akar,
batang, dan daun sejati. Namun, ada beberapa jenis yang tidak memiliki akar dan
daun sejati. Batang tumbuhan paku ada yang tumbuh di bawah tanah disebut rizom
dan ada yang tumbuh di atas permukaan tanah. Batang yang yang tumbuh di atas
tanah ada yang bercabang menggarpu dan ada yang lurus tidak bercabang. Tumbuhan
paku yang tidak memilki akar sejati memilki akar berupa rizoid yang terdapat
pada rizom atau pangkal batang. Tumbuhan paku ada yang berdaun kecil (mikrofil)
dan ada yang berdaun besar (makrofil). Tumbuhan paku yang berdaun kecil,
daunnya berupa sisik. Daun tumbuhan paku memiliki klorofil untuk fotosintesis.
Klorofil tumbuhan paku yang tak berdaun atau berdaun kecil terdapat pada
batang.
Tumbuhan paku sporofit memiliki sporangium yang
menghasilkan spora. Pada jenis tumbuhan paku sporofit yang tidak berdaun,
sporangiumnya terletak di sepanjang batang. Pada tumbuhan paku yang berdaun,
sporangiumnya terletak pada daun yang fertil (sporofil). Daun yang tidak
mengandung sporangium disebut daun steril (tropofil).
Sporofil ada yang berupa helaian dan ada yang berbentuk
strobilus. Strobilus adalah gabungan beberapa sporofil yang membentuk struktur
seperti kerucut pada ujung cabang. Pada sporofil yang berbentuk helaian,
sporangium berkelompok membentuk sorus. Sorus dilindungi oleh suatu selaput
yang disebut indisium. Sebagian besar tumbuhan paku memiliki pembuluh
pengangkut berupa floem dan xilem. Floem adalah pembuluh pengangkut nutrien
organik hasil fotosintesis. Xilem adalah pembuluh pengangkut senyawa anorganik
berupa air dan mineral dari akar ke seluruh bagian tumbuhan. Spora yang
menghasilkan sporofit akan tumbuh membentuk struktur gametofit berbentuk hati
yang disebut protalus atau protaliaum.
Gametofit tumbuhan paku hanya berukuran beberapa
milimeter. Sebagian besar tumbuhan paku memiliki gametofit berbentuk hati yang
disebut protalus. Protalus berupa lembaran, memiliki rizoid pada bagian
bawahnya, serta memiliki klorofil untuk fotosintesis.Protalus hidup bebas tanpa bergantung pada sporofit untuk
kebutuhan nutrisinya. Gametofit jenis tumbuhan paku tertentu tidak memilki
klorofil sehingga tidak dapat berfotosintesis. Makanan tumbuhan paku tanpa
klorofil diperoleh dengan cara bersimbiosis dengan jamur.
Gametofit memilki alat reproduksi seksual. Alat
reproduksi jantan adalah anteridium. Anteridium menghasilkan spermatozoid
berflagelum. Alat reproduksi betina adalah arkegonium. Arkegonium menghasilkan
ovum. Gametofit tumbuhan paku jenis tertentu memiliki dua jenis alat reproduksi
pada satu individu. Gametofit dengan dua jenis alat reproduksi disebut
gametofit biseksual. Gametofit yang hanya memiliki anteridium saja atau
arkegonium saja disebut disebut gametofit uniseksual. Gametofit biseksual
dihasilkan oleh paku heterospora (paku yang menghasilkan dua jenis spora yang
berbeda).
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan fotoautotrof. Tumbuhan
paku ada yang hidup mengapung di air ( misalnya Azolla pinnata dan Marsilea
crenata). Namun, pada umumnya tumbuhan paku adalah tumbuhan terestrial
(tumbuhan darat).
Tumbuhan paku berkembang biak secara aseksual dan seksual. Reproduksi
aseksual dan seksual pada tumbuhan paku terjadi seperti pada lumut. Reproduksi
tumbuhan paku menunjukkan adanya pergiliran antara generasi gametofit dan
generasi sporofit (metagenesis). Pada tumbuhan paku, generasi sporofit
merupakan generasi yang dominan dalam daur hidupnya.
Generasi gametofit dihasilkan oleh reproduksi aseksual dengan spora. Spora
dihasilkan oleh pembelahan sel induk spora yang terjadi di dalam sporangium.
Sporangium terdapat pada sporofit (sporogonium) yang terletak di daun atau di
batang. Spora haploid (n) yang dihasilkan diterbangkan oleh angin dan jika
sampai di tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi protalus dan selanjutnya
menjadi gametofit yang haploid (n).
Gametofit memiliki dua jenis alat reproduksi, yaitu anteridium dan
arkegonium, atau satu jenis alat reproduksi, yaitu anteridium saja atau
arkegonium saja.
Arkegonium menghasilkan satu ovum yang haploid (n). Anteridium
menghasilkan banyak spermatozoid berflagelum yang haploid (n). Spermatozoid
bergerak dengan perantara air menuju ovum pada arkegonium. Spermatozoid kemudian membuahi ovum. Pembuahan ovum oleh
spermatozoid di arkegonium menghasilkan zigot yang diploid (2n). Zigot membelah
dan tumbuh menjadi embrio (2n). Embrio tumbuh menjadi sporofit yang diploid
(2n). Metagenesis tumbuhan paku dapat dilihat melalui bagan metagenesis
tumbuhan paku, sebagai berikut :
Paku Homospora,
Paku Homospora yaitu jenis tumbuhan paku yang menghasilkan satu jenis spora
yang sama besar. Contohnya adalah paku kawat (Lycopodium)
Paku Heterospora
Paku heterospora merupakan jenis tumbuhan paku yang menghasilkan dua jenis
spora yang berbeda ukuran. Spora yang besar disebut makrospora (gamet betina) sedangkan
spora yang kecil disebut mikrospora (gamet jantan). Contohnya adalah paku rane
(Selaginella) dan Semanggi (Marsilea).
Paku Peralihan
Paku peralihan merupakan jenis tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan
bentuk dan ukuran yang sama, serta diketahui gamet jantan dan betinanya. Contoh
tumbuhan paku peralihan adalah paku ekor kuda (Equisetum)
Berdasarkan ciri tubuhnya, tumbuhan paku diklasifikasikan menjadi empat
subdivisi, yaitu paku purba (Psilopsida), paku kawat (Lycopsida),
Paku ekor kuda (Sphenopsida), dan paku sejati (Pteropsida).
Berdasarkan
tingkat perkembangannya, tumbuhan paku dapat diklasifikasikan menjadi 4
subdivisi, yaitu:
1.
Subdivisi Psilopsida
Subdivisi
Psilopsida merupakan jenis tumbuhan paku sederhana dan hanya memiliki dua genus
yang hidup tersebar luas di daerah tropik dan subtropik. Termasuk tumbuhan paku
homospora dan sudah hampir punah. Pada generasi sporofit, jenis tumbuhan paku
ini mempunyai ranting yang bercabang-cabang dan tidak memiliki akar dan daun.
Sebagai pengganti akar, jenis tumbuhan paku ini memiliki akar yang diselubungi
rambut-rambut kecil yang disebut rizoid dan belum memiliki jaringan pengangkut.
Contohnya adalah Psilotum nudum.
2.
Subdivisi Lycopsida
Disebut
ga sebagai paku kawat atau paku rambut. Anggota kelompok ini memiliki daun
kecil-kecil dan tidak bertangkai. Tumbuhan paku ini termasuk paku yang
hterspora. Hidup sebagai epifit di daerah tropis. Contohnya adalah Lycopodium
cernuum (paku kawat) dan Selaginella (paku rane).
3.
Subdivisi Sphenopsida
Dikenal
sebagai paku ekor kuda dengan sporofit yang cukup mencolok. Gametofitnya
berkembang dari spora berukuran sangat kecil, dapat berfotosintesis serta hidup
secara bebas. Spora haploid dihasilkan di dalam sporangium secara meiosis.
Sphenopsida termasuk paku peralihan. Umumnya memiliki batang bercabang dan
beruas-ruas. Daunnya kecil seperti selaput halus, tunggal dan tersusun
melingkar. Batangnya berwarna hijau yang mengandung klorofil untuk
fotosintesis. Contohnya adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).
4. Subdivisi Pteropsida
Dikenal
sebagai pakis menurut pengertian kita sehari-hari. Banyak ditemukan di daerah
hutan tropis dan subtropis. Memiliki daun yang lebih besar dibandingkan dengan
subdivisi lainnya dan dibedakan menjadi dua macam yaitu megafil dengan sistem
percabangan pembuluh dan mikrofil yaitu daun yang tumbuh dari batang yang
mengandung untaian tunggal jaringan pengangkut. Daunnya yang masih muda
menggulung pada ujungnya dan sporangium terdapat pada sporofil. Contohnya
adalah Adiantum cuneatum (suplir), Marsilea crenata (semanggi), dan Asplenium
nidus (paku sarang kuda).
4.2 PEMBAHASAN
1. Polypodium
sundaicum
Morfologi
:
a. Mempunyai
tulang daun, batang, dan akar sejati.
b. Hidup
ditempat yang lembab.
c. Daun
berbentuk panjang.
d. Batang
menempel pada pohon.
e. Sorus
tersebar tidak beraturan terletak dibawah daun.
Klasifikasi
Domain
: Eukarya
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Pteridophyta
Clasiss
: Filicinae
Ordo
: Superfisiales
Familia
: Polypodiaceae
Genus
: Polypodium
Spesies
: Polypodium sundaicum
2. Adiantum
cuneatum
Morfologi
:
a. Rhizoid/
rimpang serabut.
b. Rhizoid/
rimpang merayap pada permukaan tanah.
c. Tangkai
berwarna hitam mengkilap dan kaku.
d. Sorus
berada disisi bawah daun berwarna coklat dibagian tepi daun dan letaknya
teratur.
e. Percabangan
batang membentuk spiral.
f. Warna
daun hijau.
g. Bentuk
daun persegi panjang dengan tepi bergelombang.
h. Tekstur
daun tipis.
i. Urat
daunnya terbentuk secara bebas.
j. Percabangannya banyak.
Adiantum
cuneatum memiliki sorus bangun ginjal atau
bangun garis. Terletak pada tepi daun yang terlipat kebawah dan berfungsi
sebagai indusium. Mula-mula insidium menutup sporangium, tetapi kemudian
terdesak ke samping. daun majemuk dengan bermacam-macam bentuk. Adiantum
cuneatum memiliki daun muda yang tergulung tidak dibentuk strobilus.
Sporangium terletak pada bagian ventral daun sebelah pinggir. Sporangium berkelompok
dalam sorus dengan atau tanpa selaput ataupun indusium. Adiantum
cuneatum bereproduksi dengan spora. Gametofit disebut protalium yang
berukuran kecil. Arkegonium mengandung sel telur, anteredium menghasilkan
anterozoid yang terletak pada bagian ventral gametofit. Alat kelamin
multiseluler.
Klasifikasi
Domain
: Eukarya
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Pteridophyta
Classis
: Filicinae
Ordo
: Marginales
Familia
: Polypodiaceae
Genus
: Adiantum
Spesies
: Adiantum cuneatum
3. Cycloporus
nummularifolius
Morfologi
:
a. Mempunyai
batng yang bercabang.
b. Pada
rhizoid ada bulu/rambut (palea)
c. Daun
lebar (makrofil)
d. Daun
berbentuk bulat/lonjong
e. Sorus
berada ditepi daun yang memanjang
Klasifikasi
Domain
: Eukarya
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Pteridophyta
Classis
: Filicinae
Ordo
: Marginales
Familia
: Polypodiaceae
Genus
: Cyclophorus
Spesies
: Cyclophorus nummularifolius
4. Nephrolepis
falcate
Morfologi
:
a. Memiliki
akar, batang dan daun
b. Daun
yang muda menggulung
c. Akarnya
serabut atau merimpang
d. Daun
berbentuk menyirip
e. Daunnya
makrofil
f. Memiliki
rozet pada daun bagian ujung
g. Sorusnya
terletak pada bagian tepi bawah daun
h. Daunnya
indosium (melindungi sporangium)
Nephrolepis
sp disebut sebagai tumbuhan kormus karena
sudah memiliki akar, batang dan daun.Daunnya berwarna hijau karena
mempunyai klorofil . Nephrolepis sp berbentuk sorus bulat atau
bangun garis., pada sisi bawah daun, sepanjang tepi atau agak jauh sejajar
dengan tepi itu. Insidium sesuai dengan bentuk sorus.
Batang Nephrolepis berbentuk
bulat, tetapi pada spesies ini terdapat seperti lekukan dipermukaannya sepanjang
batang tersesut. umumi dua fase utama:gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku
yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora.
Bentuk generasi fase gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium
(prothallium), yang berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau,
mirip lumut hati, tidak berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya),
tidak berbatang, tidak berdaun.
Klasifikasi
Domain : Eukarya
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Pteridophyta
Classis
: Filicinae
Ordo
: Superficiales
Familia
: Polypodiaceae
Genus
: Nephrolepis
Spesies
: Nephrolepis falcate
5. Blechnum
sp
Morfologi
:
a. Daunnya
memanjang dan menyirip
b. Pada
tangkai daun terdapat bulu-bulu daun
c. Pada
daunnya terdapat garis tengah dan urat daun
d. Memiliki
rhizoid yang lebat
e. Pada
rhizoidnya terdapat seperti bulu-bulu putih
f. Sorus
terdapat pada bawah daun disepanjang tepi secara teratur.
Klasifikasi
Domain
: Eukarya
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Pteridophyta
Classis
: Filicinae
Ordo
: Marginales
Familia
: Polypodiaceae
Genus
: Blechnum
Spesies
: Blechnum sp
Ket
:
· Dapat
dimasukkan kedalam ordo marginales karena sorus berada pada bawah daun tersusun
secara teratur ditepi daun.
6. Platycerium
coronarium
Morfologi
:
a. Daun
menempel pada pangkalnya/substrat dan tersusun seperti genting
b. Daunnya
tebal berdaging
c. Daun
yang fertile bergantungan, mencabang dan menggarpu
d. Daun
sporofil menempel pada substrat
e. Daun berwarna
hijau karena mengandung klorofil dan berguna untuk proses fotosintesis
f. Ibu
tulang bercabag menggarpu, urat* saling berdekatan
Klasifikasi
Domain
: Eukarya
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Pteridophyta
Classis
: Pteridopsida
Ordo
:
Familia
: Polypodiaceae
Genus
: Platycerium
Spesies
: Platycerium coronarium
7. Pityrogramma
sp
Morfologi
:
a. Memiliki
urat daun dan tulang daun
b. Batang
berupa rhizome
c. Tulang
daun percabangan dikotom
d. Satu
titik rimpang mempunyai banyak cabang
e. Sorus
dibawah daun, menyebar tak beraturan ditepi daun
Klasifikasi
Doman
: Eukarya
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Pteridophyta
Classis
:Filicinae
Ordo
: Superficiales
Familia
: Polypodiaceae
Genus
: Pityrogram
Spesies
: Pityrogramma sp
8. Adiantum
terenum
Morfologi
:
a. Sporangium
berbentuk sorus
b. Sorus
terletak diujung daun bagian bawah
c. Daun
berbentuk rozet
d. Daun
tersusun spiral
e. Bentuk
daun perisai dan bertoreh
f. Tangkai
daun berdiri tegak
g. Sorus
tertutup oleh indosium
h. Sorus
tertata secara teratur ditepi daun
i. Batang
mengeluarkan banyak akar dan jika akar tidak masuk kedalam tanah, akar itu
tidak bertambah panjang dan menyelubungi batang
Klasifikasi
Domain
: Eukarya
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Pteridophyta
Classis
: Filicinae
Ordo
: Marginales
Familia
: Polypodiaceae
Genus
: Adiantum
Spesies
: Adiantum tenerum
9. Drymoglossum
Morfologi
:
a. Sorus
pada sisi bawah daun, dikanan kiri dan sejajar dengan ibu tulang daun, panjang
bentuk garis tanpa indusium
b. Daun
tunggal, bertepi rata
dimorf jika mati lepas dari
rimpang
c. Daun
fertil jauh lebih panjang daripada steril
d. Daun
epifit
e. Sorus
tanpa indisium, menutupi sebagian atau seluruh sisi bawah daun
BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
5.1 KESIMPULAN
Tumbuhan
paku merupakan suatu divisi yang warganya telah mempunyai kormus , artinya
tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokok, yaitu akar,
batang dan daun. Namun demikian tumbuhan paku belum memiliki biji. Daunnya
berwarna hijau karena memiliki klorofil yang digunakan untuk berfotosintesis.
Alat perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Warga tumbuhan
paku amat heterogen baik ditinjau dari segi habitat maupun cara hidupnya.
5.2 SARAN
Adapun saran
yang dapat saya sampaikan diharapkan agar praktikan menyiapkan semua bahan yang
akan digunakan serta diharapkan agar bahan yang disiapkan dalam keadaan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Tjitrosoepomo,
Gembong.1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah
Mada University
Press
Campbell,
Neil A.1999.Biologi edisi kelima jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Tjitrosoepomo,Gembong.2000. Taksonomi
Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Aryanto.2000. Biologi
Umum. Jakarta: Erlangga.
Iqbal.2008. Sistematika
Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.
Estiati B, Hidayat.
1995.Taksonomi tumbuhan (Cryptogamae). Bandung: ITB Bandung
Muspiroh, Novyanti,
dkk. 2010. Buku Panduan Praktikum Taksonomi Tumbuhan 1 (Cyptogamae). Cirebon:
Pusat Laboratorium IAIN Syakh Nurjati
John w. Kimball dkk.
2006. Biologi jilid 3. Jakarta: Erlangga